Kaum Miskin Indonesia

Kaum Miskin Indonesia
Perjuangan kita tak akan sia-sia. Asalkan kita tahu dari mana kita berasal (diktum sokrates), dan kemana tujuan kita (aquinas), serta dimana kita akan berhenti (Honing A Bana).

Selasa, 07 Mei 2013

Masih Ada Rasa


Kubiarkan..
cahaya bintang memilikimu

kubiarkan..
angin yang pucat ini tak habis-habisnya
gelisah…

tiba-tiba menjelma isyarat
merebutmu..

entah kapan kau bisa kutangkap…….?

Dari facebook tembus ke hati


                                                     *  Honing MCR                                                            
     Antara bumi dan langit, mungkin seperti itulah perbedaan dan jarak di antar aku dan dia. Dia tidak cantik tapi indah di pandang, sedangkan aku ??? hah  hanyalah laki-laki biasa yg hanya bisa berharap bintang di malam hari itu bisa kugapai dari bumi yang tak tersentuh oleh hati nurani ini. Bimsalabim.... bukan curhat bukan dongeng. awal kisah antara aku dan dia pun ku buka lembaran pertama.

    Kami berkenalan lewat sebuah jejaring sosial yang bisa memperkenalkan setiap orang lewat udara dan juga bisa membuat setiap orang nyaman duduk berjam-jam di dalam kamar tanpa berbicara sambil menggerakan ke sepuluh jari-jarinya di atas sebuah papan hitam yang bisu dan seakan pasrah untuk di tekan-tekan. hah, hebat....ya hebat....lihat saja ,produk barat ini mampu membuat banyak orang sudah bisa berkomunikasi dengan sang pencipta tanpa menutup mata dan melipat kedua tangannya, cukup menggerakan jari jemari ini di atas ke 30an tombol-tombol tersebut.   produk barat ini membuat aku terdiam sejenak ketika membaca status teman kuliah yang  sedang memohon belas kasihan Tuhan dengan berkomunikasi  lewat  statusnya. seperti ini statusnya " Tuhan aq hanya bisa berserah kepada kepadaMu karna aq sudah tak mampu menanggung beban ini sendirian. God help me..!!! aku mulai bertanya dalam hati, jangan-jangan Tuhan juga punya facebook?? namanya siapa ya, biar aku add. haaah mungkin yang ini, Yunus selalu setia..? ah bukan, ini nama teman ku di kampung Maconer.hehe... aku mulai berpikir lagi , atau mungkin ini adalah salah satu cara berkominikasi dengan Tuhan di zaman yang katanya sudah modern ini...atau, atau...??? masa bodoh ah, biarkan mereka bereksprsi sesuka hati. kembali ke laaaptop saja kata mas tukul yg mukanya mirip teman SMA ku dulu dari Oehala.
  Awal perkenalan kami pun tak di sengaja, waktu itu aku ingin catting dengan  teman lama ku yang kebetulan sedang OL...eh salah masuk wall, hmmm....tiba-tiba muncul pertanyan balik, Ini siapa? sial..baru sadar,ternyata aku salah masuk wall. eheem karna foto profilnya lumayan manis maka ,seperti kata pepatah "Tak kenal maka tak di sayang". memperkerkenal diri terlebih dulu adalah cara yang baik untuk mengambil hatinya. Setelah ada respon balik, aku langsung jadi wartawan dadakan. Nama panggilannya siapa? Asli mana? Kuliah dimana? Sudah semester berapa? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini sampai pada diskusi diskusi tentang dunia mahasiswa dan apalah gitu…..apa ya....,ah lupa. Diskusi lewat jejaring sosial ini berujung pada tukar –tukaran nomer Hp, maklum pria kesepian. hehe

   Komunikasi lewat jejaring sosial ini berpindah ke komukasi lewat udara (HP) yang nenek ku di kampung juga bisa menggunakannya. saling mengenal lebih jauh lagi tentang pribadi masing-masing berawal disini. Tak lupa aku SMS dan Telpon kalau  punya pulsa. Sial….tak kusangka komunikasi jarak jauh pun bisa membuat hati ini luluh oleh pribadinya yang seakan-akan cuek . eeeeits...akhirnya, jauh dimata dekat di hati, walaupun tanpa status yang jelas. Tak apalah segala sesuatu ada waktunya, seperti sebuat ayat yang ada pada Buku hitam yang katanya pemberian dari Tuhan. Pendek cerita, komunikasi ini berjalan selama 2 bulananlah, kalau tidak salah. Kalau tidak salah berarti benar ya??? Hehe

    Selama beberapa bulan itu, aku hanya bisa bersabar dan mengikuti kemana cinta itu memanggil . Seperti kata Kahlil gibran “Jangan pernah mengira kalau kau dapat menentukan arah jalanya cinta, karena cinta, pabila kau telah di pilihnya, akan menentukan perjalanan hidupMu.....”. ku ikuti perjalan perasaan ini sampai pada saat yang tepat menurut ku untuk menyampaikan perasaan ini. Ah siaaaal, saat aku menyampaikan perasaan yang aku sendiri tak mengerti kenapa bisa muncul  , jawabanya simple saja .." bingung, bimbang dan masih ragu".hah, mendengar jawabannya membuat aku ingin sekali membacakan puisinya Hemlet, “si filosuf peragu” yang pernah mendesak bahwa meyakini yang ada dalam hidup ini harus dimulai dengan meragukannya, tetapi sayang ia tidak pernah rela cintanya diragukan oleh Ophelia. kekasihnya. Ingin sekali ku katakan seperti apa yang di katakan oleh Hemlet kepada Ophelia:


Doubt thou the stars are fire;
Doubt the sun doth move;
Doubt truth to be a liar;
But, never doubt I love.
(ragukan bahwa bintang-bintang itu api;
Ragukan bahwa matahari itu bergerak;
Ragukan bahwa kebenaran itu dusta;
Tapi, jangan ragukan cintaku.)
ah, muncul suatu pertanyaan mendasar dalam hati ini. kenapa Dia ragu? ah sepertinya aku harus menjadi wartawan jilid II ne. Setelah ku tanya terus menerus ternyata, orangnya sudah punya pacar. Huuuuuuuft, siaaaaal…!!! kalau suka pacar orang salah ya? Kalau sebatas menyukai tak apalah karna sama saja dengn mengagumi ciptaannya Tuhan, asalkan jangan merebut pacar orang karna itu sama saja dengan merebut istri sesama, kata teman kos ku.

Siaaaal, aku hanya bisa memalingkan kepala ke belakang dan berkata dalam hati……haaaaaaaisssst, begini neeee….!!!


                                                                                                                               
                                                                                                                                                    


Haaaaaaissss.......bagini...

Sabtu, 04 Mei 2013

Silabus Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) GMNI



KADERISASI TINGKAT DASAR
(KTD)
  1.      Maksud
Kaderisasi Tingkat Dasar atau disingkat KTD adalah proses pengkaderan tingkat pertama (basic) dan proses indoktrinasi awal yang ditujukan kepada seluruh anggota GMNI yang telah disahkan melalui PPAB. Proses KTD lebih mengutamakan pengenalan ideologi kepada para calon kader sehingga dapat mengenal ideologi Marhaenisme secara menyuluruh, tidak tekstual dan parsial. Dengan pemahaman ideologi yang baik didukung dengan keyakinan atas ideologi tersebut, maka para anggota calon kader tersebut diharapkan akan mampu menjalankan tugas-tugas perjuangan secra konsisten mulai dari metode berfikir yang dipakai hingga pola prlikau keseharian.
 
2.      Tujuan
Tujuan pokok KTD adalah mempersiapkan para anggota GMNI menjadi kader yang memahami dan meyakini Marhaenisme sebagai metode berpikir dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, maka KTD berfungsi sebagai proses indoktrinasi untuk merubah mental dan cara berfikirnya agar lebih progresif-revolusioner dan berkepribadian untuk menjadi kader ideologis yang siap berjuang atas nama organisasi dan ideologi.
3.      Format Pengkaderan
Format/bentuk pengkaderan yang dilaksanakan dalam KTD adalah dalam bentuk materi ruang yang dilaksanakan di tempat-tempat yang bernuansa alam, jauh dari keramaian. Pemilihan tempat tersebut bertujuan untuk memudahkan proses indoktrinasi  awal. Dengan asumsi bahwa hal tersebut akan lebih mengkonsentrasikan diri para peserta untuk menyerap seluruh materi yang diberikan dalam proses KTD.
Di dalam KTD sebagai proses internalisasi ideologi para peserta terkhusus akan diberikan pemahaman terkait dengan ideologi Marhaenisme. Para peserta juga akan diberikan pemahaman tentang landasan filosofis dari Marhaenisme serta metode-metode berfikir yang terkandung didalamnya, seperti dialektika materialism dan historis materialism (MDH). Selain daripada itu para peserta juga akan diberikan pemahaman terkait dengan keorganisasian agar para peserta mampu mengimplementasikan disiplin organisasi dan disiplin gerakan nantinya, serta sebagai tambahan mulai mengenal model-model dan proses pengorganisasian massa lewat materi pengorganisasian.
4.    Metode
Metode yang di gunakan dalam kegitan KTD ini adalah :
-          Kuliah Umum;
-          Ceramah,
-          Dialog,
-          Diskusi
-          Lapangan
5.      Materi
Materi-materi yang disampaikan dalam KTD adalah materi yang terkait dengan pendalaman pemahaman sejarah filsafat dan ideologi serta keorganisasian GmnI dan pengorganisasian massa. Dengan tujuan agar para peserta  mampu memahami hakikat dari ideologi Marhaenisme dan substansi dari perjuangan kerakyatan yang dijalankan oleh GMNI. Selain itu juga memahami cara mengelola organisasi dan disiplin-disiplin didalamnya, ditambah mengenali proses-proses  dan model-model pengorganisasian massa.
Berikut 11 (sebelas) materi pokok dalam KTD:
·         Manajemen Organisasi
Meliputi pemahaman tentang manajemen organisasi dan melatih karakter kepemimpinan serta pendalaman pemahaman akan sistem keorganisasian GMNI. Materi ini diberikan dengan alokasi waktu 180 menit.
·         Nasionalisme Indonesia
Meliputi pendalaman materi tentang Nasionalisme Indonesia.
Materi ini diberikan dengan alokasi waktu minimal 180 menit.
·         Analisa Sosial
Meliputi kajian tentang pemetaan struktur kemasyarakatan secara utuh dan menyeluruh dalam kaitannya dengan menganalisa persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat pada berbagai aspek seperti: ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya.
 Materi ini diberikan dengan alokasi waktu minimal 180 menit.
·         Advokasi dan Pengorganisasian
Meliputi pengenalan tentang proses dan model-model pengorganisasian massa.
 Materi ini diberikan dengan alokasi waktu minimal 180 menit.
·         Pengantar Filsafat dan Methode Berfikir Marhaenis
Meliputi pemahaman tentang filsafat, secara khusus yang terbagi pada dua aliran besar yaitu filsafat materialisme dan filsafat idealisme.
       Materi ini diberikan dengan alokasi waktu minimal 180 menit.
·         Marhaenisme
Meliputi pemahaman yang holistic tentang ideologi Marhaenisme.
Materi ini diberikan alokasi waktu 240 menit (dapat dibagi menjadi beberapa sesi).
·         Empat Kutub Ideologi
Mengetengahkan Marhaenisme, Komunisme, Kapitalisme, Islamisme (Pan Islamisme). Mengkaji kerangka pengenalan dasar berfikir dari setiap Ideologi, sejarah terbentuknya ideologi tersebut, keterlibatan antar ideologi satu sama lain, dan dinamisasi empat ideologi pada konteks perkembangan dunia hari ini.
Materi ini diberikan alokasi waktu 180 menit.
·         Manajemen Aksi dan Teknik Persidangan
Manajemen aksi meliputi pemahaman mengenai bagaimana melakukan perancanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap Aksi yang dilakukan. Sementara Teknik persidangan memberikan pemahaman meliputi tatacara persidangan dalam di GmnI .
Materi ini diberikan waktu minimal 180 menit.
·         Sarinah
Meliputi penjelasan intisari buku Sarinah, dasar Feminisme, analisis gender dan transformasi sosial.
Materi ini diberikan waktu minimal 180 menit
·         Pengantar Politik Indonesia
Meliputi pengertian politik menurut pandangan dari beberapa ahli, memahami sistem politik Indonesia, interaksi politik serta tindakan-tindakan politik.
Materi ini diberikan dengan alokasi waktu 180 menit
·       Materi Muatan Lokal (Mulok)
6.      Kerangka dan Acuan Materi
a.      Manajemen Organisasi
Materi ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai manajemen organisasi, bagaimana mengelola dan memaksimalkan potensi-potensi yang ada dalam organisasi, mengatur dan menyusun program gerakan serta bagaimana mengenali dan menganalisa permasalahan-permasalahan yang ada dan cara penyelesainnya (problem solving), diteruskan dengan pemahaman bagaimana melakukan pengambilan keputusan yang cepat, tepat dan bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan.
      Selanjutnya para peserta dididik untuk lebih memahami disiplin organisasi dan disiplin gerakan yang mendukung pola perjuangan dan pola gerakan GMNI, dengan cara memahami kembali sistem keorganisasian GMNI serta terkhusus pola dan karakter gerakan perjuangan GMNI.
      Dengan menyampaikan materi manajemen organisasi, maka para calon kader diharapkan dapat menuguasai manajemen organisasi serta menguasai karakter dan teknik-teknik kepemimpinan yang baik. Disamping itu para calon kader harapannya dapat memahami serta dapat mengimplementasikan disiplin keorganisasian dan disiplin dalam gerakan dalam berorganisasi.
b.     Analisa Sosial
Materi analisa sosial meliputi kajian tentang pemetaan pola dan karateristik masyarakat, sistem sosialnya, struktur sosialnya, hubungan-hubungan ekonomi politik pada suatu komunitas masyarakat tertentu untuk kemudian mengidentifikasi dan menentukan kontradiksi pokok yang terjadi dalam masyarakat itu dengan tetap memperhatikan berbagai variabel yang ada dalam masyarakat tersebut. Untuk mendukung hal itu penting untuk memberikan pemahaman tentang metode dan teknik dalam melakukan analisa sosial.
Dengan adanya materi ini para peserta KTD diharapkan dapat memahami dan memiliki kemampuan dalam melakukan analisa sosial, yang bertujuan sebagai sarana untuk membantu para kader dalam melakukan pengorganisasian massa (machtvorming) nantinya.
c.      Advokasi dan Pengorganisasian
Materi advokasi dan pengorganisasian meliputi pengenalan tentang teknik-teknik advokasi dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka pengorganisasian massa yang ditujukan untuk menyebarluaskan ideologi ketengah-tengah basis rakyat. Selain itu para calon kader akan diperkenalkan dengan model dan teknik-teknik pengorganisasian massa Marhaen.
Dengan pengenalan ini maka para peserta KTD diharapakan dapat mengenali teknik-teknik advokasi dan pemberdayaan masyarakat serta model-model pengorganisasian massa. Disamping itu para peserta diharapkan lebih mendalami tugas dan tanggung jawab perjuangan untuk mengorganisir massa demi menjalankan usaha-usaha perjuangan nasional nantinya.
d.     Nasionalisme Indonesia
Materi Nasionalisme Indonesia ini adalah pendalaman pemahaman atas materi pengantar nasionalisme dalam masa PPAB. Materi nasionalisme Indonesia ini mencakup tahapan sejarah munculnya Nasionalisme di dunia dengan merujuk pada teori dan konsep beberapa tokoh seperti Ernest Renan, Otto Bauer dan lainnya. Kemudian tahapan sejarah munculnya Nasionalisme di dunia yang dimulai dari awal abad XI (perang antar agama), kemudian perang di abad pertengahan, sampai perang dunia I dan perang dunia II.
Perang antar agama di abad XI ditujukan untuk mengetahui tentang motif-motif yang melandasi perang tersebut, apakah benar atas dasar kepentingan agama ataukah hanya sebatas kepentingan perluasan (ekpansi) wilayah kekuasaan terkait dengan perebutan sumber-sumber kekayaan (sumber daya ekonomi) masing-masing pihak. Peperangan yang terjadi di abad pertengahan ditujukan untuk mengetahui karateristik nasionalisme yang mulai timbul pada masa itu, dengan mengkritisi tujuan-tujuan dari peperangan tersebut. Begitu pula perang dunia I dan II yang ditujukan untuk mengetahui kadar karateristik Nasionalisme yang melandasi semangat masing-masing Negara sehingga memunculkan perang antar Negara tersebut.
Disamping itu materi ini juga membahas  tentang analisa komparatif antara nasionalisme yang berkembang di Negara-negara kapitalis (liberal), Negara-negara monarki, negara-negara fasis serta memberikan pemahaman lahirnya nasionalisme Indonesia yang didasarkan pada theory Ernest Rennan, Otto Bauer yang dilengkapi oleh teori geopolitik Soekarno. Dari analisa komparatif tersebut kemudian direlevansikan dengan Nasionalisme yang berkembang di Indonesia, terutama mengenai karakter dan cita-cita masing-masing Nasionalisme. Penjelasan tentang tantangan-tantangan Nasionalisme Indonesia menghadapi Neo liberalisme, kosmopolitisme dan etnonasionalisme serta ultranasionalisime.
Berdasarkan uraian di atas secara garis besar materi nasionalisme Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut:
·         Sejarah lahirnya Nasionalisme di dunia
·         Teori dan tokoh nasionalisme
-          Ernest Renan
-          Otto Bauer
-          Gandhi (dan jika dipandang perlu, teori dan tokoh dapat ditambahkan pemateri)
·         Sejarah peperangan dunia dan Nasionalisme
·         Sejarah Nasionalisme Indonseia
·         Karateristik Nasionalisme Negara-negara dunia
-          Nasionalisme di Negara kapitalis (liberalis).
-          Nasionalisme di Negara Komunis.
-          Nasionalisme di Negara Facis .
-          Nasionalisme di Negara Monarki.
-          Nasionalisme di Negara Keagamaan.
·         Karateristik Nasionalisme Indonesia
·         Studi komparasi nasionalisme Indonesia dengan Nasionalisme di Negara-negara lain
·         Tantangan Nasionalisme Indonesia
-          Nasionalisme Indonesia dan Neo liberalisme
-          Nasionalisme Indonesia dan kosmopolitisme
-          Nasionalisme Indonesia dan etno Nasionalisme
-          Nasionalisme Indonesia dan ultra Nasionalisme
e.      Pengantar Filsafat dan Metode Berpikir Marhaenis
Materi ini mencakup sejarah kehidupan dan pemikiran filsafat yang berkembang di dunia dari era yunani kuno hingga saat sekarang ini. Dengan memperkenalkan pemikiran-pemikiran filsafat yang hingga kini masih berpengaruh seperti: Heraclitus, Parmanides, Socrates, Aristoteles, Plato dan lain sebagainya.
Setelah itu arus pemikiran filsafat yang berkembang dikerucutkan pada dua arus besar aliran filsafat, yaitu filsafat idealisme dan filsafat materialism. Pemaparan ini dengan menelaah pemikiran-pemikiran filsafat Hegel terutama mengenai diaketika serta konsepsi “Idealisme absolute” yang dikemukan Hegel
Pemikiran filsafat Hegel sebagai keterwakilan dari arus besar filsafat idealisme kemudian dikomparasikan dengan pemikiran filsafat Feurbach tentang hukum-hukum materialism yang mewakili arus besar pemikiran filsafat materialisme sebagai wujud kritik terhadap filsafat idealisme yang dikembangkan Hegel.
Dengan memahami materi filsafat ini maka diharapkan pola berpikir kritis (berpikir filsafat) dapat terinternalisasi dengan baik pada para peserta sehingga mampu melihat berbagai kondisi dan situasi dengan kritis namun tetap bijaksana. Selain itu diharapkan para peserta akan mampu memahami dan menyelami latar filosofis dari munculnya ideologi-ideologi yang ada di dunia dan aliran filsafat yang mempengaruhinya.
f.        Materi Marhaenisme
Pemberian materi Marhaenisme dimulai dari awal mula proses sejarah munculnya Marhaenisme di Indonesia. Pengkajian tersebut meliputi pengkajian yang mengupas landasan-landasan pemikiran filsafat dari Marhaneisme dan metode-metode berpikir yang meliputi Marhaenisme, yaitu Historis-Materialisme dan Dialektika Materialisme. Dalam pengkajian tersebut dikaitkan dengan Marxisme sebagai ideologi yang secara khusus menginspirasi Sukarno sehingga akhirnya melahirkan Marhaenisme.
      Proses tersebut selanjutnya dikaitkan dengan pandangan-pandangan Sukarno tentang realitas sejarah kolonialisme dan imperialism di Indonesia pada masa pra kemerdekaan yang berakibat pada penindasan dan penghisapan kehidupan rakyat. Sejarah munculnya Marhaenisme juga ditinjau dari ide-ide yang mengilhami pemikiran Sukarno sehingga menemukan Marhaenisme tersebut.
      Pengkajian materi Marhaenisme meliputi kajian atas 3 (tiga) pokok unsur  pembentuk ideologi marhaenisme yaitu: sosio-nasionalisme, sosio demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sosio Nasionalisme merupakan pandangan hidup yang menjelaskan tentang watak dan karateristik nasionalisme Indonesia yang tidak sempit dan bersendi pada persatuan Nasional untuk menyelamatkan seluruh rakyat Indonesia dari penindasan, serta bersandar pada internasionalisme yang mana berbeda dengan Nasionalisme Negara-Negara lain. Sosio-Demokrasi adalah sistem sosial-politik dan Sosial-Ekonomi yang berlandaskan dan berasal dari sendi-sendi cara kehidupan masyarakat Indonesia yang mana dalam proses hubungan ekonomi dan pengambilan keputusan taat pada azas kekeluargaan, musyawarah-mufakat dan prinsip-prinsip keterwakilan. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip dasar kepercayaan masarakat Indonesia akan konsep-konsep berketuhanan sebagai bagian dari kepribadian kebudayaan masyarakat Indonesia. 
      Selanjutnya pengkajian materi dititkberatkan pada pembangunan keyakinan tentang Marhaenisme sebagai ideologi dan azas perjuangan. Marhaenisme sebagai ideologi adalah pandangan dan cita-cita hidup yang harus dipegang teguh oleh seluruh kader GmnI. Marhaenisme sebagai azas perjuangan adalah cara dan usaha dalam mewujudkan cita-cita luhur Marhaenisme, yaitu terwujudnya tatanan masyarakat yang adil dan makmur, masyarakat sosialis Indonesia. Cara dan usaha itu antara lain meliputi, Machtvorming, Non kooperasi, Radikalisme gerakan, Massa aksi, dengan tetap berpegang pada prinsip self help dan  self reliance.
      Berdasarkan uraian di atas secara garis besar materi nasionalisme Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut:
·         Kerangka pemikiran Karl Max
-          Marxisme sebagai sintesis dari pemikiran Hegel (tesis) dan pemikiran Feurbach (antitesa)
-          Materialisme Dialektika Historis (MDH) serta teori dan konsep dalam Marxisme sebagai antitesa sistem kapitalisme
·         Sejarah Lahirnya Marhaenisme
-          Realitas sejarah kapitalisme dan imprealisme di Indonesia
-          Marhaenisme sebagai pandangan hidup dan jiwa rakyat Indonesia.
-          Marhaenisme sebagai Marxisme yang diterapkan (toegepast) di Indonesia
-          Marhaenisme sebagai antitesa kolonialisme dan kapitallisme.
·         Unsur-unsur pembentuk Marhaenisme
-          Sosio-nasionalisme
-          Sosio-demokrasi
-          Ketuhanan Yang Maha Esa
·         Azas perjuangan dalam Marhaneisme
-          Machtvorming dan Machtanwending
-          Non Kooperasi
-          Radikalisme gerakan
-          Massa aksi
-          Prinsip Self help dan self reliance
g.      Manajamen Aksi dan Teknik Persidangan
Materi ini memberikan informasi tentang bagaimana suatu manajemen aksi dalam skala luas, massif dan berkesinambungan. Aksi disini tidak hanya dipahami sebagai aksi demonstrasi, akan tetapi berbagai jenis aksi yang tepat guna dan diharapkan tepat sasaran.
Untuk itu kajian dipusatkan bagaimana mengatur dan menggerakan potensi-potensi gerakan, pemilihan issue, hierarki komando dan hal-hal lainnya yang diperlukan dalam mengorganisir aksi yang berskala luas, massif dan berkesinambungan.
Dengan demikian diharapkan peserta memiliki pemahaman akan manajemen aksi serta memiliki kemampuan untuk mengorganisir aksi massal yang berskala luas.  Sedangkan teknik persidangan bagaimana peserta memahami tatacara memimpin sidang, mengatur jalannya suatu persidangan, menciptakan suasana persidangan yang kondusif dan mampu  memecahkan suatu masalah.
h.     Empat Kutub Ideologi
Materi Empat Kutub Ideologi ini yang akan diketengahkan ialah : Marhaenisme, Komunisme, Kapitalisme, Islamisme (Pan Islamisme). Mengkaji kerangka dasar berfikir dari setiap Ideologi dan sejarah terbentuknya ideologi tersebut dan dinamisasinya pada konteks hari ini, dari setiap ideologi yang dibahas  harapanya kader GMNI dapat memahami  keterkaitan  antar Empat ideologi tersebut dan perbedaanya dalam percaturan politik, ekonomi dan peradaban dunia,
 Pengkajian ideologi marhaenisme pada materi ini, sebagai lanjutan dari materi PPAB, agar kader GMNI memahami betul paradigma Marhaenisme di tengah pertarungan ideologi lain yang menjadi dasar pemikiran negara – negara di dunia,  serta mampu menempatkan dasar ideologi Marhaenisme  sebagai pisau analisa dalam berfikir dan berjuang menuju bangsa indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.
Marhaenisme :
-          Sejarah Marhaenisme  tentang subtansi roh perjungan bangsa Indonesia yang di gagas oleh founding father kita Soekarno.
-          Materialisme Dialektika Histories (MHD) serta teori dan konsep perjuangan dalam marhaenisme sebagai antitesa sistem kapitalisme.
-          Telaah Tentang keterkaiatan marhaenisme dengan Komunis
-          Telaah Tentang Keterkaitan marhaenisme dengan pan Islamisme.
 Kapitalisme :
-          Dasar pokok pikiran Adam Smith (Wealth of Nation)
-          Sejarah tentang masyarakat dunia dengan skema globalisasi yang mengkedepankan asas modal sebagai alat sebuah penindasan.
-          Proses lahirnya Kapitalisme. 
-          Telaah pengenalan dasar tentang Kolonialisme dan imperialisme serta liberalism.
Komunisme :
-            Sejarah lahirnya komunisme yang di gagas Karlmax
-            Dasar – dasar pokok kerangka pemikiran komunisme: Lenin, Trotsky, Gramsci, Rosa Luxemburg, Kautsky, Eduard Bernstein, Mao Tze Tung, Otto Bauer
-          Materialisme Dialektika Historis (MDH) serta teori dan konsep dalam Marxisme
-    Sejarah perkembangan Komunisme dalam kanca peradaban dunia.
Pan Islamisme :
-       Sejarah perkembangan Islam di dunia
-       Sejarah lahirnya Pan Islamisme
-       Jamaluddin Al Afgani dengan pemikiran pembaharuannya supaya umat Islam kembali pada ajaran agama Islam yang murni , kepemimpinan otokrasi diubah menjadi demokrasi
-       Pengaruh Pan Islmisme terhadap peradaban dunia
-       Sejarah perekembangan islam dalam konteks Pan Islamisme persepktif Bung Karno.
-       Pengaruh Pan Islmisme terhadap sejarah bangsa Indonesia.
i.        Sarinah I
Materi Sarinah yang diberikan kepada calon kader GMNI pada saat tahap Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) merupakan lanjutan materi yang diberikan pada saat PPAB. Diantaranya adalah pemberian materi tentang intisari dari buku Sarinah (Perjuangan Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia) yang meliputi basis materi objektif budaya Patriarkal dan Matriarkal, Polarisasi Gerakan yang dibuat kelompok perempuan, Analisis gender dan transformasi sosial, Teori dan Praktik Feminisme (Liberal, Radikal, Marxisme dan Sosialis) yang berujung pada pandangan Soekarno terhadap perempuan sebagai upaya dalam mewujudkan sosialisme Indonesia. Didalam pemberian materi diharapkan pemateri dapat menjelaskan pengertian bahwa perlawanan yang revolusioner tidak akan terjadi tanpa adanya penindasan imperialisme dan kapitalisme yang berakar dari politik feodal, sehingga diperlukan adanya kesatuan antara perempuan dan laki-laki dalam balutan gotong royong untuk mewujudkan cita-cita perjuangan Republik Indonesia.
 
j.        Pengantar Politik Indonesia
Sebagai organisasi yang meiliki Azas/Ideologi maka GMNI tentunya berkewajiban untuk mewujudkan cita-cita perjuangan sebagaimana yang dimaksud oleh azas/Ideologi tersebut. Materi pengantar politik dimaksudkan memberikan pemahaman bagi calon kader GMNI mengenai sistem politik Indonesia, karena dalam perjuangan Ideologis GMNI tentunya tidak dapat melepaskan diri dari dinamika politik. GMNI harus dapat menentukan sikap politik organisasi dan bagaimana GMNI berperan dalam sistem politik.
Memahami sistem politik Indonesia akan memberikan gambaran bagi kader GMNI untuk menentukan strategi-strategi perjuangan GMNI yang tentunya tidak terlepas dari Marhaenisme sebagai Azas/Ideologi.
k.     Muatan Lokal
Materi muatan lokal merupakan materi tambahan yang dapat diberikan kepada peserta KTD, materi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan karakteristik atau kultur masing-masing wilayah Cabang bersangkutan.