Kaum Miskin Indonesia

Kaum Miskin Indonesia
Perjuangan kita tak akan sia-sia. Asalkan kita tahu dari mana kita berasal (diktum sokrates), dan kemana tujuan kita (aquinas), serta dimana kita akan berhenti (Honing A Bana).

Senin, 17 September 2012

Sejarah GmnI

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (disingkat GMNI) adalah sebuah organisasi mahasiswa di Indonesia. Organisasi ini adalah sebuah gerakan mahasiswa yang berlandaskan ajaran Marhaenisme. GMNI dibentuk pada tanggal 22 Maret 1954 sebagai hasil gabungan dari tiga organisasi mahasiwa, masing-masing Gerakan Mahasiswa Marhenis, Gerakan Mahasiswa Merdeka, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia.
Daftar isi

* 1 Sejarah
o 1.1 Organisasi pembentuk
o 1.2 Proses peleburan
o 1.3 Deklarasi
o 1.4 Para deklarator
o 1.5 Kongres I
o 1.6 Kongres II
o 1.7 Kongres III
o 1.8 Kongres V
o 1.9 Kongres VI
o 1.10 Kongres VII
* 2 Pranala luar

Sejarah
Organisasi pembentuk
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan tiga organisasi mahasiswa yang berasaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu ialah:

* Gerakan Mahasiswa Marhaenis, berpusat di Jogjakarta
* Gerakan Mahasiswa Merdeka, berpusat di Surabaya
* Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia, berpusat di Jakarta.

Proses peleburan

Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.

Dalam satu rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang seasas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positif.

Deklarasi
Setelah melalui serangkaian pertemuan penjajagan, maka pada Rapat Bersama antar ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah kesepakatan antara lain:

* Setuju untuk melakukan fusi
* Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama "Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia" (GMNI).
* Asas organisasi adalah: Marhaenisme ajaran Bung Karno.
* Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan ini.

Para deklarator

Para pimpinan tiga organisasi yang hadir dalam pertemuan ini antara lain:

* Dari Gerakan Mahasiswa Merdeka:

1. Slamet Djajawidjaja
2. Slamet Rahardjo
3. Heruman

* Dari Gerakan Mahasiswa Marhaenis:

1. Wahyu Widodo
2. Subagio Masrukin
3. Sri Sumantri martosuwiignyo

* Dari Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia:

1. S.M. Hadiprabowo
2. Djawadi Hadipradoko
3. Sulomo

Kongres I

Dengan direstui Presiden Sukarno, pada tanggal 22 Maret 1954, dilangsungkan Kongres I GMNI di Surabaya. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi GMNI (Dies Natalis) yang diperingati hingga sekarang. Adapun yang menjadi materi pokok dalam Kongres I ini, selain membahas hasil-hasil kesepakatan antar tiga pimpinan organisasi yang berfusi, juga untuk menetapkan personil pimpinan di tingkat pusat.

Kongres II
Sehubungan dengan banyak persoalan yang sebenarnya belum terselesaikan dalam forum Kongres I, maka dua tahun kemudian (1956), GMNI kembali menyelenggarakan Kongres II GMNI di Bandung, dengan pokok persoalan di seputar masalah konsolidasi internal organisasi. Sebagai hasil realisasi keputusan Kongres II ini, maka Organisasi cabang GMNI mulai tertata di beberapa kota.

Kongres III
Akibat dari perkembangan yang kian meningkat di sejumlah basis organisasi, tiga tahun setelah Kongres II, GMNI kembali menyelenggarakan Kongres III GMNI di Malang tahun 1959, yang dihadiri sejumlah Utusan cabang yang dipilih melalui Konperensi Cabang masing-masing. Berawal dari Kongres III ini, GMNI mulai meningkatkan kiprahnya, baik dalam lingkup dunia perguruan tinggi, maupun ditengah-tengah masyarakat.

Dalam kaitan dengan hasil Kongres III ini, masih pada tahun yang sama (1959) GMNI menyelenggarakan Konperensi Besar GMNI di Kaliurang Jogjakarta, dan Presiden Sukarno telah berkenan ikut memberikan Pidato Sambutan yang kemudian dikenal dengan judul "Hilangkan Steriliteit Dalam Gerakan Mahasiswa!".

Kongres V

Untuk lebih memantapkan dinamika kehidupan pergerakan GMNI, maka direncanakan pada tahun 1965 akan diselenggarakan Kongres V GMNI di Jakarta. Namun Kongres V tersebut gagal terlaksana karena gejolak politik nasional yang tidak menentu akibat peristiwa G30S/PKI. Kendati demikian, acara persiapannya sudah sempat direalisiir yakni Konperensi besar GMNI di Pontianak pada tahun 1965. Dalam Konferensi besar ini telah dihasilkan kerangka Program Perjuangan, serta Program Aksi bagi Pengabdian Masyarakat.

Dampak peristiwa G30S/PKI bagi GMNI sangat terasa sekali, sebab setelah peristiwa tersebut, GMNI dihadapkan pada cobaan yang cukup berat. Perpecahan dalam kubu Front Marhaenis ikut melanda GMNI, sehingga secara nasional GMNI jadi lumpuh sama sekali. Di tengah hantaman gelombang percaturan politik nasional yang menghempas keras, GMNI mencoba untuk bangkit kembali melakukan konsolidasi. Terlaksana Kongres V GMNI di Salatiga tahun 1969 (yang seharusnya di Jakarta tetapi gagal dilaksanakan). Namun Kongres V ini tetap belum bisa menolong stagnasi organisasi yang begitu parah.

Namun demikian kondisi ini tampaknya telah membangkitkan kesadaran kesadaran baru dikalangan warga GMNI, yakni kesadaran untuk tetap bergerak pada kekuatan diri sendiri, maka mulai 1969, thema "Independensi GMNI" kembali menguasai lam pikiran para aktivis khususnya yang berada di Jakarta dan Jogjakarta. Tuntutan Independensi ini mendapat reaksi keras, baik dari kalangan Pimpinan Pusat GMNI maupun dari PNI/Front Marhaenis. Tuntutan independensi ini sebenarnya merupakan upaya GMNI untuk kembali ke "Khittah" dan "Fitrah" nya yang sejati. Sebab sejak awal GMNI sudah independen. Tuntutan ini sesungguhnya sangat beralasan dan merupakan langkah antisipasi, sebab tidak lama kemudian terjadi restrukturisasi yang menyebabkan PNI/FM berfusi kedalam PDI.

kongres VI
Setelah gejolak politik reda GMNI kembali memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun kembali organisasinya. Dilaksanakan Kongres VI GMNI di Ragunan-Jakarta tahun 1976, dengan thema pokok: "Pengukuhan Independensi GMNI serta Konsolidasi Organisasi". Hal lain yang patut dicatat dalam Kongres VI ini adalah penegasan kembali tentang Asas Marhaenisme yang tidak boleh dicabut oleh lembaga apapun juga, serta perubahan model kepemimpinan kearah kepemimpinan kolektif dalam bentuk lembaga Presidium.

Selain itu, Kongres VI mempunyai arti tersendiri bagi GMNI, sebab mulai saat itu telah terjadi regenerasi dalam keanggotaan GMNI, yang ditandai dengan munculnya sejumlah pimpinan basis dan cabang dari kalangan mahasiswa muda yang tidak terkait sama sekali dengan konflik internal PNI/FM di masa lalu.

Kongres VII
Mengingat persoalan konsolidasi meliputi berbagai aspek, maka masalah yang sama dibahas pula dalam Kongres VII GMNI di Medan tahun 1979. dalam Kongres VII ini kembali ditegaskan bahwa: Asas organisasi tidak boleh diubah, Independensi tetap ditegakkan, dan konsolidasi organisasi harus seimbang dengan konsolidasi ideologi.

Sabtu, 15 September 2012

Jujur ne ko?


Sejujurx....
Jujur ne....
Sangat jujur....

Bahkan lebih jujur dari apa yang kalian pahami tentang kejujuran.

Bahwa aku menganggap engkau sebagai Saudara.....
Itu pasti.

Bahwa engkau merupakan saudara terdekat ku......
Semua orang tahu itu.

Bahwa engkau adalah bagian terpenting dalam hidup ini.....
tak ada yg pernah meragukan itu.

Tapi jikalau KAMU MENGKHIANATI AKU...
Semua orang tak pernah membayangkan hal itu akan terjadi.

Tapi.................,

ya......
ya sudahlah....................!!!



Sssst....cukup lu sha yg tau ..


selama ini aku kagumi dirimu,walau hanya sesaat pertemuan namun hati ini tak meragukan mu. walau cinta ini tak kau balas namun ku tetap mengagumimu..
manisnya senyumu…
mata mu…
tuturkatamu….
semua yang ada pada mu.

Ku tau diriku sdah milik orang lain,tapi hati ini tidak bisa di pungkiri..,,,
Bahwaku suka kamu…
Biarlah cinta ini hanya menjadi rahasia…
Aku……dan kamu……

Bukan pembalasan yang ku harapkan….
yang ku ingin…..
hanya asal kau tau saja…
bahwaku selalu memujamu…..

salammm….
sang pemujamu

Kamis, 13 September 2012

Terima Kasih Ibu





Kulihat secercah cahaya putih di balik senyum ibuKu,
Kutatap sebentar, kukenang masa kecilKu
Indah hiasan tanganMu

Walaupun liku-liku rajutan dalam kalbu,
Air mataMu, senyum
Menjadi bagian dalam hidupKu

Minggu, 09 September 2012

Harus Di Kritisi


Kalau buat forum di jawa untuk mengarahkan kekuatan mahasiswa demi kepentingan politik semata,,saya pikir tidak "fair"..yg harus dibagun yaitu diskusi dengan tawaran solusi kongkrit yg konstruktif demi perkembangan dan kemajuan TTS.bukannya mendikotomi mahasiswa pada wilaya teritorial dlm menimbah ilmu..harusnya disatuhkan antara kekuatan "konseptor",, "worker" & administrator + networking..sy yakin kawan2 TTS di seluruh Indonesia sudah dewasa..tanpa dimintapun,kami akan kawal proses demokratisasi di TTS...secepatnya akan didirikan tim relawan untuk pengawalan PEMILUKADA kab.TTS..semoga kawan2 satu frame dengan kami supaya "bermain" dengan cara mahasiswa,bukan politisi musiman atau numpang nama...kawan...gerakan politik mahasiswa itu gerakan nilai,bukan gerakan pragmatis..yang harus ditunjukkan yaitu konsep kaum muda untuk membangun TTS bukannya masuk dan terlibat..ada saatnya..tapi bukan nunggu 20 tahun lagi....ada saatnya..ada ruangnya..ada waktunya...

Sekali penjilat, Tetap penjilat.
Menyesal dapat kawan yang pragmatis ke lu.....




wasallam....

Suatu Telaah Psikologi Sosial




                                                       * Honing Bana


Saya mimpi tentang sebuah dunia, Dimana ulama-buruh dan pemuda, Bangkit dan berkata-Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apapun

…….Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, Agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun, Dan melupakan perang dan kebencian, Dan Hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan- Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang (Soe Hok Gie)

Fenomena Konflik yang Berujung Kerusuhan

Akhir-akhir ini semakin banyak konflik atau kerusuhan terjadi di Indonesia. Hal tersebut tentunya akan menjadi permasalahan yang mengganggu kelancaran pembangunan yang membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai suatu stabilitas nasional yang mantap. Permasalahan yang bersumber dari sentimen SARA menjadi pertanyaan bagi semua kalangan, karena dalam sejarah selama ini semua unsur etnis dapat hidup berdampingan secara damai.

Pada perkembangannya persoalan SARA menjadi dasar terjadinya konflik yang serius dan berkepanjangan. Ada beberapa kasus besar dalam periode 10 tahun ini, misalnya kasus pengrusakan gereja di Situbondo, kerusuhan di Rengasdengklok yang menyebabkan kerusakan vihara dan gereja, kerusuhan di Ketapang-Jakarta, pembakaran gereja di Kupang, pengrusakan tempat ibadah agama di Pasuruan, kerusuhan politis yang diarahkan pada kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Ambon & Maluku Utara, serta kerusuhan Poso yang baru-baru saja menyeruak dengan adanya penembakan terhadap seorang pemimpin agama di tempat ibadahnya.

Fenomena tersebut menunjukkan suburnya bibit-bibit permusuhan antar kelompok. Sementara itu persoalan konflik antar kelompok ini sulit untuk diselesaikan atau dihentikan karena begitu lamanya tidak mendapatkan solusi sehingga menimbulkan dendam berkepanjangan bagi pengikutnya. Hal ini nampak dari kerusuhan yang terjadi di Ambon, Maluku Utara dan Poso, yang berlarut-larut dan diturunkan dari generasi satu ke generasi yang lain, sehingga tinggal menunggu bom waktu pemicu kerusuhan.

Padahal sebenarnya Ralph K White (dalam Ancok, 2004) menyatakan nobody wanted war, tidak seorangpun yang menyukai peperangan (konflik). Hal tersebut berarti manusia sebenarnya juga menginginkan keterdekatan dan kerjasama dengan orang lain, berinteraksi secara positif dan menjalin hubungan yang lebih dalam antara satu dengan yang lain. Namun demikian realitasnya banyak keinginan untuk berkonflik dengan orang lain. Selanjutnya Ralph K White menekankan bahwa ada 6 hal yang bisa menyebabkan terjadi konflik, antara lain diabolical enemy image (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan), vipile self image (pandangan bahwa dirinya jantan), moral self image (pandangan dirinya lebih bermoral), selective inatention (tidak memperhatikan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan), absence of emphaty (tidak adanya empati), military over confidence (keyakinan yang berlebihan akan kekuatannya). Pandangan yang dikemukakan oleh White inilah yang dianggap menjadi titik tolak munculnya konflik. Oleh karena itu semua pihak perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas.

Sementara itu ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan/ pertentangan atau konflik yang berujung pada kerusuhan, antara lain:

1. Adanya prasangka sosial
Prasangka merupakan fenomena yang terjadi antar kelompok yang cenderung berkonotasi negatif (Kuppuswamy, 1973). Prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Prasangka tersebut terkait erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus dalam kehidupan selanjutnya, akhirnya prasangka tersebut terlihat sebagai dosa turun menurun yang akan selalu ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Prasangka menjadi mengkristal karena tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas. Pada akhirnya prasangka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Akan muncul konsep in-group dan out-group, yang menganggap kelompok dan orang-orang yang se ide dan se ideology sebagai kelompok yang benar, dan sebaliknya orang lain yang tidak se ide sebagai ancaman bagi dirinya. Sebagaimana yang terungkap dalam investigasi dari Gatra (Agustus, 2001) tentang banyak bermunculan panglima cilik dari komunitas Islam (putih) maupun Kristen (merah) di dalam kerusuhan Ambon, akibat dari konflik yang terus menerus dan semakin meneguhkan anggapan atau persepsi yang negatif di antara mereka.

2. Fanatisme yang berlebihan dan keliru
Pertentangan antar kelompok bisa muncul bila terjadi adanya pandangan yang mengagung-agungkan kelompoknya, namun menganggap rendah kelompok lain. Akhirnya segala hal yang menyangkut kelompoklain, dianggap sebagai sesuatu yang negatif atau bahkan lebih jauh lagi dianggap sebagai musuh yang tidak harus dihormati. Akhirnya pandangan negatif tersebut akan menjadi bibit permusuhan antar kelompok. Sebagaimana diungkapkan oleh Jamuin (1999) diistilahkan sebagai klaim kebenaran yang didasarkan atas keyakinan membabi-buta terhadap hasil interpretasi atas teks ajaran agama. Hal tersebut karena klaim kebenaran akan mengarah pada munculnya konflik antar pemeluk agama yang bisa meluas pada konflik pada wilayah kehidupan yang lain.

3. Kurangnya komunikasi
Suatu pertentangan atau permusuhan kadangkala disebabkan oleh ketidaklancaran dalam mengko-munikasikan pesan. Pesan ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan. Akhirnya akan terjadi kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut, yang berlanjut dengan ketegangan di antara pemberi dan penerima pesan. Begitu pula dalam kehidupan bersama, suatu ketegangan akan terjadi bila suatu hal yang dikomunikasikan oleh kelompok tertentu dipersepsikan keliru oleh kelompok yang lain. Hal tersebut karena kelompok-kelompok yang jarang atau tidak pernah berkomunikasi akan menggunakan info yang sedikit tersebut untuk mengambil keputusan akan kemungkinan perilaku orang lain. Oleh karena itu perlu adanya komunikasi antara kelompok agar tercapai kesamaan persepsi atau sensitivitas akan maksud dan tujuan pesan yang dikomunikasikan.

4. Pencampur adukan kepentingan agama dengan kepentingan sosial, politik, ekonomi
Kepentingan agama memang tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain yang melingkupinya. Merunut sejarah masa lalu, agama tidak dapat dipisahkan dari kepentingan-kepentingan lain. Akhirnya kadangkala umat beragama terpecah menjadi berbagai kepentingan yang mempunyai misi dan visi berbeda. Akhirnya apabila muncul ketegangan di antara berbagai kepentingan tidak dapat melepaskan diri dari atribut kepentingan politik atau ekonomi yang disandangnya. Apalagi memiliki kekuasaan politik berarti mempunyai kekuasaan yang lebih dibanding yang lain. Hal inilah yang seringkali menimbulkan pertikaian dalam kehidupan beragama.

5. Terakumulasinya permasalahan sosial ekonomi, seperti kemiskinan, meningkatnya peng`ngguran dan tidak stabilnya harga kebutuhan pokok, yang tidak terselesaikan dapat pula menjadi pemicu dasar kerusuhan, apalagi bila dikaitkan dengan persoalan SARA. Hal tsb bisa menjadi precipitating factor / event yang ampuh dalam memunculkan kerusuhan. Apalagi ada provokator yang mampu me"manage" isu sehingga mudah membakar massa yang sudah frustasi dengan seabreg ketidakpuasan.

Teori Psikologi Massa

Studi tentang massa atau perilaku kolektif banyak bersangkut paut dengan disiplin sosiologi politik dan psikologi sosial, baik dari ulasan makro maupun mikro (Cook et.al, 1995). Kaitan erat fenomena perilaku kolektif dengan psikologi sosial nampak pertama kali dari publikasi Charles Makay yang berjudul Extraordinary Popular Delusions & The Madness of Crowds tahun 1841; kemudian karya Gustav Le Bon yang berjudul The Crowd, publikasi le Bon ini membawa pengaruh besar meningkatkan perkembangan penelitian tentang perilaku kolektif, seperti Robert Park seorang Amerika yang studi di Jerman yang menulis disertasi tentang perilaku individu dalam kerumunan tahun 1904; selanjutnya Park dan Ernest Burgess mengulas contagion theory dalam buku Introduction to the Science of Sociology tahun 1921; Ralph Turner dan dan Lewis Killian yang memperkenalkan teori Emergent Norm Perspective dalam bukunya Collective Behavior tahun 1957; Neil Smelser dengan teori The Value-Added dalam buku Theory of Collective Behavior tahun 1962; Clarck McPhail dengan teori SBI (symbolic interactionist/ behaviorist) atau Sociocybernetic yang menekankan bahwa perilaku kolektif adalah bentuk dari perilaku kelompok; Floyd Allport dengan teori Konvergen mengulas perilaku kolektif dalam buku Social Psychology tahun 1924; Neil Miller dan John Dollard dalam buku Social Learning and Imitation tahun 1941; pendekatan individual terhadap perilaku kolektif dimunculkan tahun 1988 oleh Michael Hogg dan Dominic Abrams dalam bukunya Social Identification : A Social Psychology of Intergroup Relations and Group Processes; William Kornhauser dengan teori Mass Society dalam buku The Politics of Mass Society tahun 1959 menyatakan bahwa gerakan sosial (social movement) sifatnya personal daripada politis, karena terkait dengan keinginan terbebas dari masalah perasaan terkekang/ terisolasi; Stoufer dengan teori deprivasi relatif tahun 1949 yang kemudian dikembangkan oleh Denton Morrison tahun 1971 dalam buku Some Notes toward Theory on Relative Deprivation, Social Movements and Social Change; Meyer Zald dan Roberta Ash dalam bukunya Social Movement Organizations memunculkan teori Resource Mobilization; serta Douglas Mc Adam dengan teori Political Process dalam buku terbitan tahun 1982 dengan judul Political Process and the Development of Black Insurgency 1930-1970.

Di samping itu, menurut Cook et.al. (1995) banyak publikasi dari psikolog yang mengulas perilaku kolektif dan gerakan sosial dari sudut psikologi sosial, antara lain: Freud dengan bukunya Group Psychology & the Analysis of the Ego, yang terbit tahun 1921;Dollartd et.al. dengan bukunya Frustration and Aggression yang terbit tahun 1939; Adorno et.al. dengan buku The Authoritarian Personality yang terbit tahun 1950.

Lebih jauh lagi DiRenzo (1990) dalam bukunya Human Social Behavior mengungkapkan berbagai jenis dari perilaku kolektif, antara lain : crowds, panic behavior, mass hysteria, behavior in disasters, rumor, publics, public opinion, mass behavior, dan social movement. Sedangkan Locher (2002) dalam bukunya Collective Behavior membedakan perilaku kolektif sebagai berikut : mass suicides, mob violence, riots, crazes, panics, fads, rumors, physical hysterias, millenarian groups, sightings, miracles dan social movements. Menurut John Lofland (2003) perilaku kolektif mencakup 4 jenis yang berbeda, yakni kerumunan (crowd), massa (mass), publik, dan gerakan sosial (social movement).

Gerakan sosial dianggap memiliki keistimewaan dibanding perilaku kolektif yang lain, utamanya tentang pengorganisasian kelompok yang tidak kelihatan pada jenis perilaku kolektif yang lain. Pada dasarnya gerakan sosial mencakup beberapa konsep, yakni ; orientasi tujuan pada perubahan(change-oriented goals), ada tingkatan tertentu dalam suatu organisasi (some degree of organization), tingkatan kontinuitas aktivitas yang sifatnya temporal (some degree of temporal continuity); serta aksi kolektif di luar lembaga (aksi ke jalan) dan di dalam lembaga (lobi politik) (some extrainstitutional and institutional) (Cook et.al., 1995). Dari berbagai konsep di atas nampak sekali bahwa gerakan sosial mencakup pula adanya suatu organisasi tertentu yang lebih kompleks dan bertahan lama dibanding perilaku kolektif lain misalnya crowd.

Cara-cara Mengatasi Konflik

Sherif (Sarwono, 1998) mengungkapkan bahwa pemecahan konflik bisa dilakukan dengan beberapa cara di antaranya adanya pemunculan tujuan bersama, artinya tujuan individu individu bisa disubstitusikan pada tujuan bersama yang lebih besar untuk kepentingan bersama. Hal tersebut berarti kemampuan semua warga negara dari berbagai lini untuk saling menghargai pandangan, perasaan dan respon orang lain akan menumbuhkan kebersamaan. Kuncinya adalah pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara. Tujuan bersama atau Super ordinate goal dapat mengurangi konflik antar kelompok (Ancok, 2004). Super ordinate goals yang kita raih saat ini adalah bagaimana menciptakan Indonesia yang aman, damai dan sejahtera.
Lebih jauh lagi permasalahan konflik antar kelompok seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih serius dari semua pihak, karena penyelesaian persoalan ini harus lebih komprehensif. Beberapa solusi tersebut antara lain :

1. Lebih cepat dan tanggap dalam memperhatikan berbagai ketidakpuasan yang terjadi di masyarakat.
Sebagaimana diketahui ketidakpuasan (subjective dissatisfaction) menjadi faktor utama munculnya gerakan sosial (Matulessy, 1997). Selama masih banyak persoalan tentang ketidakadilan, pengangguran dan tekanan ekonomi dikaitkan atau dijadikan dasar munculnya konflik antar kelompok.
2. Perlu tindakan hukum yang lebih tegas dan transparan pada pemicu kerusuhan.
Selama ini ada kesan pelaku kerusuhan tidak pernah mendapatkan law enforcement yang sepadan, karena adanya kendala bukti dan saksi dalam kegiatan massa sulit didapatkan serta dukungan dari tokoh dan anggota kelompoknya membuat aparat sulit untuk memberikan punishment kepada mereka.
3. Meningkatkan komunikasi di antara kelompok untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan.
Komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural; kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya di antara kelompok, serta refleksi & renungan kebersamaan untuk mensikapi perbedaan visi kehidupan.
4. Kesadaran dari para pemuka kelompok untuk tidak menjadikan konflik sebagai alat politik
Hal ini memang tidak mudah, karena politik berarti kekuasaan, dan fanatisme kelompok merupakan kendaraan politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal sebagian besar masyarakat tergolong pada masyarakat level bawah, yang mengedepankan emosi pada para pemimpinnya, ditambah dengan kekurangmampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam tataran wacana, sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan kelompoknya (pemimpin). Oleh karena itu pemimpin kelompok diharapkan mengurangi perannya dalam politik atau tidak memunculkan pendapat yang sudah dirasuki oleh kepentingan politik. Selain itu menumbuhkan suasana yang sejuk serta tidak menguatkan klaim kebenaran yang mengarah pada fanatisme yang keliru.

Dari berbagai model solusi di atas, sebenarnya penyelesaian yang terfokus pada peningkatan kesadaran kelompok merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan konflik antar kelompok. Pembinaan pada anggota kelompok diarahkan pada peningkatan kualitas akan nilai-nilai kebenaran dan menumbuhkan sikap toleransi adalah sesuatu yang paling efektif daripada mengkonsentrasikan pada penambahan jumlah pengikutnya. Namun demikian pada kehidupan social yang semakin penuh dengan kompetisi, maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit untuk diimplementasikan pada tingkatan realitas.

Sekali lagi orang masih melakukan proses heuristics atau mental short-cut dalam mempersepsikan segala hal yang terkait dengan orang lain. Ada prototype di dalam struktur kognitif seseorang yang dibangun dari sebuah proses interaksi dan internalisasi dengan lingkungan sosialnya, dalam arti kultur, agama, etnis atau lingkungan keluarga. Prototype tsb tidak selalu benar, banyak distorsi kognitif yang menyulitkan munculnya toleransi pada orang lain. Selain itu egoisme pribadi yang menetapkan diri pribadi atau kelompoknya menjadi tolok ukur dalam menilai orang lain pun akan menyulitkan seseorang untuk bertoleransi dengan orang atau kelompok lain.

Di dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan orang masih berfikir “senang melihat orang lain sakit, atau sakit hati bila melihat orang lain senang”. Padahal toleransi harus didasari oleh kebutuhan kita untuk share/ saling berbagi persoalan dengan yang lain tanpa saling menghalangi; mampu berempati atau mampu merasakan apa yang sedang terjadi pada orang lain, kemampuan empati seperti ini memang tidak mudah untuk dilakukan selama tidak ada keterbukaan hati dan pikiran kita akan keberadaan orang lain; simpati pada apa yang dilakukan orang lain, selalu melihat bahwa apa yang dilakukan orang lainpun patut kita hargai; menghormati pendapat, pandangan, keyakinan, customs, perilaku, agama, suku dan segala atribut orang atau kelompok lain, kondisi seperti ini bisa tercapai apabila kita terbiasa untuk berkomunikasi dengan berbagai typical orang yang berbeda, fanatisme menggumpal karena jarang ada interaksi dan komunikasi dengan orang atau kelompok lain; tidak selalu menilai orang lain berdasarkan subjektifitas dirinya, bahaya menggunakan subjetivitas adalah semakin menyulitkan kita untuk menerima kehadiran dan perubahan yang terjadi pada orang lain, karena setiap orang mau tidak mau akan selalu berubah, sehingga pandangan kitapun harus berubah, selain itu objektivitas muncul apabila kita mampu berinteraksi; mengedepankan consensus daripada konflik dengan individu lain, selama ini penyelesaian dengan berkonflik dianggap lebih sesuai dalam mencapai tujuan diri dan kelompok, padahal sekali konflik muncul akan semakin sulit kita mengendalikan untuk tidak berkonflik atau akan muncul jenis konlik lain yang semakin parah; menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang segala persoalan yang terjadh pada orang lain, memahami orang lain tidaklah mudah, karena harus didasari oleh kebersihan nurani untuk melihat segala persoalan dengan lebih hati-hati dan jernih; tidak ada keinginan untuk mengalahkan orang lain, dalam arti tidak selalu melihat kelompok lain sebagai musuh namun lebih menekankan pada kemenangan semua pihak, karena semua pihak adalah mitra dalam kehidupan sehari-hari; serta menetapkan bahwa kerjasama adalah modal social yang paling utama dalam membangun interaksi bersama. Tanpa adanya toleransi antar kelompok, maka jangan harap segala capaian atau keinginan akan perubahan pada masa depan negara ini akan tercapai. MERDEKA !!!!

Analisis Sosial


                                               Kerangka Analisis Sosial


Kawan-kawan,



Jaman baru ini membawa analisis sosial juga menjadi
baru. Apanya yang baru? Coba baca tulisan Romo Herry Priyono, "Sesudah
Dekonstruksi Negara". Tulisan ini menarik, sederhana, namun mengenalkan
pisau berpikir Analisis Sosial yang benar-benar baru. Baru"nya adalah
demikian: di jaman lama, kriteria demokrasi dikenakan hanya pada negara - di
jaman baru, kriteria demokrasi itu (common good) dikenakan pada *semua* pihak.
Ya negara, ya militer, ya swasta, ya... dll. Jadi, inti kontradiksi dalam ansos
lama "akar masalah" itu ditujukan pada "mengontrol praktik
kekuasaan yang semena-mena" yang dilakukan oleh siapa saja.



Mengenai buntunya "pisau analisis sosial"
saat ini, maka terlampir (dalam folder ansos ini, Red.), materi-materi Analisis
Sosial yang --menurut hemat saya-- jauh lebih relevan.



Saat ini saya sendiri sedang merevisi ulang
pemahaman saya mengenai Ansos seperti yang ditawarkan Suryawasita ataupun
Banawiratma ataupun jenis-jenis seperti 5-Paradigma Organisasi yang menurut
saya deterministik. Entahlah, saya sendiri masih bergulat dengan ini. Saya
merasakan dulu ada yang "not quite right" dengan pendekatan itu dalam
berbagai pelatihan ansos yang saya lakukan, tetapi belum bisa merumuskannya.
Saya berterima kasih pada Romo Herry Priyono yang dalam 5-6 bulan terakhir ini
membantu saya keluar dari kebuntuan berpikir ini dengan kerangka teoretisnya
yang sangat tajam. Kini, saya kira saya sedikit banyak mulai bisa mengatasi
masalah itu.



Itu pula yang mendorong saya mengkompilasi semua
pemikiran itu dan meletakkannya dalam butir-butir ringkas sebagai berikut :



1. Pisau Ansos lama yang merujuk sistem negara
sebagai biang keladi ketidakadilan sosial, tidak cukup.



2. Kriteria demokratisasi (dan "common
good" yang lain) bukan hanya diterapkan untuk negara, tetapi juga untuk
segala bentuk praktek kekuasaan, oleh segala aktor.



3. Karena itu, lawan "civil society" itu
bukan "state"/negara, melainkan "praktik kekuasaan yang
semena-mena, tidak bertanggungjawab pada publik". Baik itu kekuasaan uang,
senjata, agama, dll, dll.



4. Kalau kita salah menempatkan kontradiksi ini,
maka kita akan terjebak untuk selalu mendekonstruksi negara. Padahal, negara
juga punya kekuasaan yang sah, legitimate, justru untuk melindungi hak-hak
warganya



5. Civil society mendapatkan makna baru: yaitu
sebagai sebuah matriks perimbangan antara 3 kekuatan: masyarakat, pasar dan
"public agency". Public agency ini bisa berupa negara, LSM,
paguyuban, dll yang melindungi kepentingan publik.



6. Dalam kerangka waktu saat ini, kekuatan yang
tumbuh menjadi mengerikan dalam hal kekuasaan dan seharusnya menjadi target
proses demokratisasi adalah sistem pasar*. Komunitas bisnis dengan agenda
neo-liberal-nya melindas dua kekuatan yang lain, yaitu masyarakat dan negara.



Karena itu, dalam konteks Indonesia, kita bisa lebih
mudah meletakkan dimana militer, orde baru, dll dengan pisau analisis ini.



Ada 9 (sembilan) bahan yang akan saya kirimkan.
Semuanya adalah tulisan Romo B.Herry Priyono yang mencoba membunyikan gagasan
sosial demokrasi dengan menempatkannya dalam konteks waktu dan kekinian.
Formasinya kira-kira sebagai berikut :



"Jalan Ketiga sebagai Utopia" adalah bahan
untuk 'meditasi', renungan mengenai faham sosial demokrasi baru.


"Strukturasi Kondisi Modernitas" adalah
kajian akademis dari teori strukturasi


"Demokrasi dan Kapitalisme" adalah sebuah
polemik.


"KKN bukan Sebuah Budaya" adalah sebuah
polemik.


"Bangsa sesudah Orde Baru" adalah sebuah
polemik


"Sesudah Dekonstruksi Negara" adalah
sebuah polemik


"Amademen Pasal Ekonomi" adalah sebuah
polemik


"Buruh" adalah sebuah advokasi


"Bangsa, Negara dan Rakyat" adalah sebuah
latar tentang nasionalisme.


“Gerhana Humaniora” Ini mengupas mengenai kaum
intelektual, sistem pendidikan dan bagaimana konteks "perjuangan"
diletakkan di dalamnya


Secara khusus, dalam training Ansos Uni Sosial
Demokrat di Solo nanti (Tawangmangu, 17-19 Agustus 2001, Red.) -atau juga
training rekan-rekan di organisasi masing-masing-usulan saya adalah :



(1) diberikan sebagai bacaan
pra-pelatihan. Selama pelatihan, digunakan sebagai bahan diskusi kelompok.
Dilanjutkan dengan (6) dan (7) yang memberikan pisau analisis sosial yang baru.
Sebaiknya dibahas di kelas, dalam sesi terpimpin, dilanjutkan dengan diskusi kelompok.
Studi kasusnya adalah (4), (5) dan (. Kalau mau ditambah, (3). Tapi ini bisa
dihilangkan kalau waktunya tidak cukup. Dalam studi kasus ini, ada baiknya
kasus-kasus mutakhir Nasional diangkat untuk dibahas, misalnya lengsernya Gus
Dur, polemik Megawati. Demikian juga dengan kasus lokal Solo: pergantian
walikota, pembangunan daerah, dll. Sehingga ada kontekstualisasi yang lebih
konkrit untuk menemukan kontradiksi yang lebih mendasar.



Tulisan (2) dan (9) adalah tentatif, untuk mereka
yang mau belajar lebih jauh lagi. Tulisan (10) mengupas mengenai kaum
intelektual, sistem pendidikan dan bagaimana konteks "perjuangan"
diletakkan di dalamnya. Hemat saya, tulisan ini bisa dijadikan bahan
"renungan pagi" setelah mandi, sebelum sarapan…





Demikian sumbang pikiran dari
saya.





Salam,


Honing Mcr



Suatu Telaah Psikologi Sosial


                                                     Pelatihan Kader Bangsa

                                                     

                                                        * Honing Alvianto Bana




Saya mimpi tentang sebuah dunia, Dimana ulama-buruh dan pemuda, Bangkit dan berkata-Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apapun

…….Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, Agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun, Dan melupakan perang dan kebencian, Dan Hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan- Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang (Soe Hok Gie)

Fenomena Konflik yang Berujung Kerusuhan

Akhir-akhir ini semakin banyak konflik atau kerusuhan terjadi di Indonesia. Hal tersebut tentunya akan menjadi permasalahan yang mengganggu kelancaran pembangunan yang membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai suatu stabilitas nasional yang mantap. Permasalahan yang bersumber dari sentimen SARA menjadi pertanyaan bagi semua kalangan, karena dalam sejarah selama ini semua unsur etnis dapat hidup berdampingan secara damai.

Pada perkembangannya persoalan SARA menjadi dasar terjadinya konflik yang serius dan berkepanjangan. Ada beberapa kasus besar dalam periode 10 tahun ini, misalnya kasus pengrusakan gereja di Situbondo, kerusuhan di Rengasdengklok yang menyebabkan kerusakan vihara dan gereja, kerusuhan di Ketapang-Jakarta, pembakaran gereja di Kupang, pengrusakan tempat ibadah agama di Pasuruan, kerusuhan politis yang diarahkan pada kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Ambon & Maluku Utara, serta kerusuhan Poso yang baru-baru saja menyeruak dengan adanya penembakan terhadap seorang pemimpin agama di tempat ibadahnya.

Fenomena tersebut menunjukkan suburnya bibit-bibit permusuhan antar kelompok. Sementara itu persoalan konflik antar kelompok ini sulit untuk diselesaikan atau dihentikan karena begitu lamanya tidak mendapatkan solusi sehingga menimbulkan dendam berkepanjangan bagi pengikutnya. Hal ini nampak dari kerusuhan yang terjadi di Ambon, Maluku Utara dan Poso, yang berlarut-larut dan diturunkan dari generasi satu ke generasi yang lain, sehingga tinggal menunggu bom waktu pemicu kerusuhan.

Padahal sebenarnya Ralph K White (dalam Ancok, 2004) menyatakan nobody wanted war, tidak seorangpun yang menyukai peperangan (konflik). Hal tersebut berarti manusia sebenarnya juga menginginkan keterdekatan dan kerjasama dengan orang lain, berinteraksi secara positif dan menjalin hubungan yang lebih dalam antara satu dengan yang lain. Namun demikian realitasnya banyak keinginan untuk berkonflik dengan orang lain. Selanjutnya Ralph K White menekankan bahwa ada 6 hal yang bisa menyebabkan terjadi konflik, antara lain diabolical enemy image (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan), vipile self image (pandangan bahwa dirinya jantan), moral self image (pandangan dirinya lebih bermoral), selective inatention (tidak memperhatikan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan), absence of emphaty (tidak adanya empati), military over confidence (keyakinan yang berlebihan akan kekuatannya). Pandangan yang dikemukakan oleh White inilah yang dianggap menjadi titik tolak munculnya konflik. Oleh karena itu semua pihak perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas.

Sementara itu ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan/ pertentangan atau konflik yang berujung pada kerusuhan, antara lain:

1. Adanya prasangka sosial
Prasangka merupakan fenomena yang terjadi antar kelompok yang cenderung berkonotasi negatif (Kuppuswamy, 1973). Prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Prasangka tersebut terkait erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus dalam kehidupan selanjutnya, akhirnya prasangka tersebut terlihat sebagai dosa turun menurun yang akan selalu ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Prasangka menjadi mengkristal karena tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas. Pada akhirnya prasangka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Akan muncul konsep in-group dan out-group, yang menganggap kelompok dan orang-orang yang se ide dan se ideology sebagai kelompok yang benar, dan sebaliknya orang lain yang tidak se ide sebagai ancaman bagi dirinya. Sebagaimana yang terungkap dalam investigasi dari Gatra (Agustus, 2001) tentang banyak bermunculan panglima cilik dari komunitas Islam (putih) maupun Kristen (merah) di dalam kerusuhan Ambon, akibat dari konflik yang terus menerus dan semakin meneguhkan anggapan atau persepsi yang negatif di antara mereka.

2. Fanatisme yang berlebihan dan keliru
Pertentangan antar kelompok bisa muncul bila terjadi adanya pandangan yang mengagung-agungkan kelompoknya, namun menganggap rendah kelompok lain. Akhirnya segala hal yang menyangkut kelompoklain, dianggap sebagai sesuatu yang negatif atau bahkan lebih jauh lagi dianggap sebagai musuh yang tidak harus dihormati. Akhirnya pandangan negatif tersebut akan menjadi bibit permusuhan antar kelompok. Sebagaimana diungkapkan oleh Jamuin (1999) diistilahkan sebagai klaim kebenaran yang didasarkan atas keyakinan membabi-buta terhadap hasil interpretasi atas teks ajaran agama. Hal tersebut karena klaim kebenaran akan mengarah pada munculnya konflik antar pemeluk agama yang bisa meluas pada konflik pada wilayah kehidupan yang lain.

3. Kurangnya komunikasi
Suatu pertentangan atau permusuhan kadangkala disebabkan oleh ketidaklancaran dalam mengko-munikasikan pesan. Pesan ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan. Akhirnya akan terjadi kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut, yang berlanjut dengan ketegangan di antara pemberi dan penerima pesan. Begitu pula dalam kehidupan bersama, suatu ketegangan akan terjadi bila suatu hal yang dikomunikasikan oleh kelompok tertentu dipersepsikan keliru oleh kelompok yang lain. Hal tersebut karena kelompok-kelompok yang jarang atau tidak pernah berkomunikasi akan menggunakan info yang sedikit tersebut untuk mengambil keputusan akan kemungkinan perilaku orang lain. Oleh karena itu perlu adanya komunikasi antara kelompok agar tercapai kesamaan persepsi atau sensitivitas akan maksud dan tujuan pesan yang dikomunikasikan.

4. Pencampur adukan kepentingan agama dengan kepentingan sosial, politik, ekonomi
Kepentingan agama memang tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain yang melingkupinya. Merunut sejarah masa lalu, agama tidak dapat dipisahkan dari kepentingan-kepentingan lain. Akhirnya kadangkala umat beragama terpecah menjadi berbagai kepentingan yang mempunyai misi dan visi berbeda. Akhirnya apabila muncul ketegangan di antara berbagai kepentingan tidak dapat melepaskan diri dari atribut kepentingan politik atau ekonomi yang disandangnya. Apalagi memiliki kekuasaan politik berarti mempunyai kekuasaan yang lebih dibanding yang lain. Hal inilah yang seringkali menimbulkan pertikaian dalam kehidupan beragama.

5. Terakumulasinya permasalahan sosial ekonomi, seperti kemiskinan, meningkatnya pengangguran dan tidak stabilnya harga kebutuhan pokok, yang tidak terselesaikan dapat pula menjadi pemicu dasar kerusuhan, apalagi bila dikaitkan dengan persoalan SARA. Hal tsb bisa menjadi precipitating factor / event yang ampuh dalam memunculkan kerusuhan. Apalagi ada provokator yang mampu me"manage" isu sehingga mudah membakar massa yang sudah frustasi dengan seabreg ketidakpuasan.

Teori Psikologi Massa

Studi tentang massa atau perilaku kolektif banyak bersangkut paut dengan disiplin sosiologi politik dan psikologi sosial, baik dari ulasan makro maupun mikro (Cook et.al, 1995). Kaitan erat fenomena perilaku kolektif dengan psikologi sosial nampak pertama kali dari publikasi Charles Makay yang berjudul Extraordinary Popular Delusions & The Madness of Crowds tahun 1841; kemudian karya Gustav Le Bon yang berjudul The Crowd, publikasi le Bon ini membawa pengaruh besar meningkatkan perkembangan penelitian tentang perilaku kolektif, seperti Robert Park seorang Amerika yang studi di Jerman yang menulis disertasi tentang perilaku individu dalam kerumunan tahun 1904; selanjutnya Park dan Ernest Burgess mengulas contagion theory dalam buku Introduction to the Science of Sociology tahun 1921; Ralph Turner dan dan Lewis Killian yang memperkenalkan teori Emergent Norm Perspective dalam bukunya Collective Behavior tahun 1957; Neil Smelser dengan teori The Value-Added dalam buku Theory of Collective Behavior tahun 1962; Clarck McPhail dengan teori SBI (symbolic interactionist/ behaviorist) atau Sociocybernetic yang menekankan bahwa perilaku kolektif adalah bentuk dari perilaku kelompok; Floyd Allport dengan teori Konvergen mengulas perilaku kolektif dalam buku Social Psychology tahun 1924; Neil Miller dan John Dollard dalam buku Social Learning and Imitation tahun 1941; pendekatan individual terhadap perilaku kolektif dimunculkan tahun 1988 oleh Michael Hogg dan Dominic Abrams dalam bukunya Social Identification : A Social Psychology of Intergroup Relations and Group Processes; William Kornhauser dengan teori Mass Society dalam buku The Politics of Mass Society tahun 1959 menyatakan bahwa gerakan sosial (social movement) sifatnya personal daripada politis, karena terkait dengan keinginan terbebas dari masalah perasaan terkekang/ terisolasi; Stoufer dengan teori deprivasi relatif tahun 1949 yang kemudian dikembangkan oleh Denton Morrison tahun 1971 dalam buku Some Notes toward Theory on Relative Deprivation, Social Movements and Social Change; Meyer Zald dan Roberta Ash dalam bukunya Social Movement Organizations memunculkan teori Resource Mobilization; serta Douglas Mc Adam dengan teori Political Process dalam buku terbitan tahun 1982 dengan judul Political Process and the Development of Black Insurgency 1930-1970.

Di samping itu, menurut Cook et.al. (1995) banyak publikasi dari psikolog yang mengulas perilaku kolektif dan gerakan sosial dari sudut psikologi sosial, antara lain: Freud dengan bukunya Group Psychology & the Analysis of the Ego, yang terbit tahun 1921;Dollartd et.al. dengan bukunya Frustration and Aggression yang terbit tahun 1939; Adorno et.al. dengan buku The Authoritarian Personality yang terbit tahun 1950.

Lebih jauh lagi DiRenzo (1990) dalam bukunya Human Social Behavior mengungkapkan berbagai jenis dari perilaku kolektif, antara lain : crowds, panic behavior, mass hysteria, behavior in disasters, rumor, publics, public opinion, mass behavior, dan social movement. Sedangkan Locher (2002) dalam bukunya Collective Behavior membedakan perilaku kolektif sebagai berikut : mass suicides, mob violence, riots, crazes, panics, fads, rumors, physical hysterias, millenarian groups, sightings, miracles dan social movements. Menurut John Lofland (2003) perilaku kolektif mencakup 4 jenis yang berbeda, yakni kerumunan (crowd), massa (mass), publik, dan gerakan sosial (social movement).

Gerakan sosial dianggap memiliki keistimewaan dibanding perilaku kolektif yang lain, utamanya tentang pengorganisasian kelompok yang tidak kelihatan pada jenis perilaku kolektif yang lain. Pada dasarnya gerakan sosial mencakup beberapa konsep, yakni ; orientasi tujuan pada perubahan(change-oriented goals), ada tingkatan tertentu dalam suatu organisasi (some degree of organization), tingkatan kontinuitas aktivitas yang sifatnya temporal (some degree of temporal continuity); serta aksi kolektif di luar lembaga (aksi ke jalan) dan di dalam lembaga (lobi politik) (some extrainstitutional and institutional) (Cook et.al., 1995). Dari berbagai konsep di atas nampak sekali bahwa gerakan sosial mencakup pula adanya suatu organisasi tertentu yang lebih kompleks dan bertahan lama dibanding perilaku kolektif lain misalnya crowd.

Cara-cara Mengatasi Konflik

Sherif (Sarwono, 1998) mengungkapkan bahwa pemecahan konflik bisa dilakukan dengan beberapa cara di antaranya adanya pemunculan tujuan bersama, artinya tujuan individu individu bisa disubstitusikan pada tujuan bersama yang lebih besar untuk kepentingan bersama. Hal tersebut berarti kemampuan semua warga negara dari berbagai lini untuk saling menghargai pandangan, perasaan dan respon orang lain akan menumbuhkan kebersamaan. Kuncinya adalah pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara. Tujuan bersama atau Super ordinate goal dapat mengurangi konflik antar kelompok (Ancok, 2004). Super ordinate goals yang kita raih saat ini adalah bagaimana menciptakan Indonesia yang aman, damai dan sejahtera.
Lebih jauh lagi permasalahan konflik antar kelompok seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih serius dari semua pihak, karena penyelesaian persoalan ini harus lebih komprehensif. Beberapa solusi tersebut antara lain :

1. Lebih cepat dan tanggap dalam memperhatikan berbagai ketidakpuasan yang terjadi di masyarakat.
Sebagaimana diketahui ketidakpuasan (subjective dissatisfaction) menjadi faktor utama munculnya gerakan sosial (Matulessy, 1997). Selama masih banyak persoalan tentang ketidakadilan, pengangguran dan tekanan ekonomi dikaitkan atau dijadikan dasar munculnya konflik antar kelompok.
2. Perlu tindakan hukum yang lebih tegas dan transparan pada pemicu kerusuhan.
Selama ini ada kesan pelaku kerusuhan tidak pernah mendapatkan law enforcement yang sepadan, karena adanya kendala bukti dan saksi dalam kegiatan massa sulit didapatkan serta dukungan dari tokoh dan anggota kelompoknya membuat aparat sulit untuk memberikan punishment kepada mereka.
3. Meningkatkan komunikasi di antara kelompok untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan.
Komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural; kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya di antara kelompok, serta refleksi & renungan kebersamaan untuk mensikapi perbedaan visi kehidupan.
4. Kesadaran dari para pemuka kelompok untuk tidak menjadikan konflik sebagai alat politik
Hal ini memang tidak mudah, karena politik berarti kekuasaan, dan fanatisme kelompok merupakan kendaraan politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal sebagian besar masyarakat tergolong pada masyarakat level bawah, yang mengedepankan emosi pada para pemimpinnya, ditambah dengan kekurangmampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam tataran wacana, sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan kelompoknya (pemimpin). Oleh karena itu pemimpin kelompok diharapkan mengurangi perannya dalam politik atau tidak memunculkan pendapat yang sudah dirasuki oleh kepentingan politik. Selain itu menumbuhkan suasana yang sejuk serta tidak menguatkan klaim kebenaran yang mengarah pada fanatisme yang keliru.

Dari berbagai model solusi di atas, sebenarnya penyelesaian yang terfokus pada peningkatan kesadaran kelompok merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan konflik antar kelompok. Pembinaan pada anggota kelompok diarahkan pada peningkatan kualitas akan nilai-nilai kebenaran dan menumbuhkan sikap toleransi adalah sesuatu yang paling efektif daripada mengkonsentrasikan pada penambahan jumlah pengikutnya. Namun demikian pada kehidupan social yang semakin penuh dengan kompetisi, maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit untuk diimplementasikan pada tingkatan realitas.

Sekali lagi orang masih melakukan proses heuristics atau mental short-cut dalam mempersepsikan segala hal yang terkait dengan orang lain. Ada prototype di dalam struktur kognitif seseorang yang dibangun dari sebuah proses interaksi dan internalisasi dengan lingkungan sosialnya, dalam arti kultur, agama, etnis atau lingkungan keluarga. Prototype tsb tidak selalu benar, banyak distorsi kognitif yang menyulitkan munculnya toleransi pada orang lain. Selain itu egoisme pribadi yang menetapkan diri pribadi atau kelompoknya menjadi tolok ukur dalam menilai orang lain pun akan menyulitkan seseorang untuk bertoleransi dengan orang atau kelompok lain.

Di dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan orang masih berfikir “senang melihat orang lain sakit, atau sakit hati bila melihat orang lain senang”. Padahal toleransi harus didasari oleh kebutuhan kita untuk share/ saling berbagi persoalan dengan yang lain tanpa saling menghalangi; mampu berempati atau mampu merasakan apa yang sedang terjadi pada orang lain, kemampuan empati seperti ini memang tidak mudah untuk dilakukan selama tidak ada keterbukaan hati dan pikiran kita akan keberadaan orang lain; simpati pada apa yang dilakukan orang lain, selalu melihat bahwa apa yang dilakukan orang lainpun patut kita hargai; menghormati pendapat, pandangan, keyakinan, customs, perilaku, agama, suku dan segala atribut orang atau kelompok lain, kondisi seperti ini bisa tercapai apabila kita terbiasa untuk berkomunikasi dengan berbagai typical orang yang berbeda, fanatisme menggumpal karena jarang ada interaksi dan komunikasi dengan orang atau kelompok lain; tidak selalu menilai orang lain berdasarkan subjektifitas dirinya, bahaya menggunakan subjetivitas adalah semakin menyulitkan kita untuk menerima kehadiran dan perubahan yang terjadi pada orang lain, karena setiap orang mau tidak mau akan selalu berubah, sehingga pandangan kitapun harus berubah, selain itu objektivitas muncul apabila kita mampu berinteraksi; mengedepankan consensus daripada konflik dengan individu lain, selama ini penyelesaian dengan berkonflik dianggap lebih sesuai dalam mencapai tujuan diri dan kelompok, padahal sekali konflik muncul akan semakin sulit kita mengendalikan untuk tidak berkonflik atau akan muncul jenis konlik lain yang semakin parah; menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang segala persoalan yang terjadi pada orang lain, memahami orang lain tidaklah mudah, karena harus didasari oleh kebersihan nurani untuk melihat segala persoalan dengan lebih hati-hati dan jernih; tidak ada keinginan untuk mengalahkan orang lain, dalam arti tidak selalu melihat kelompok lain sebagai musuh namun lebih menekankan pada kemenangan semua pihak, karena semua pihak adalah mitra dalam kehidupan sehari-hari; serta menetapkan bahwa kerjasama adalah modal social yang paling utama dalam membangun interaksi bersama. Tanpa adanya toleransi antar kelompok, maka jangan harap segala capaian atau keinginan akan perubahan pada masa depan negara ini akan tercapai. MERDEKA !!!!

Haaaaaisssst, Begini ne.........!!!!!!

                                                       *  Honing  Bana  McR                                                      
Cinta ditolak...? ah mari minm kopi hitam saja sudah,
sambil menikmati dunia yang indah ini.
malam yang dingin di temani bintang-bintang yang selalu
tersenyum manis.
(HOBA MCR)
   

    Antara bumi dan langit, mungkin seperti itulah perbedaan dan jarak di antar aku dan dia. Dia tidak cantik, tapi indah di pandang. sedangkan aku ??? hah  hanyalah laki-laki biasa, yg hanya bisa berharap bintang di malam hari itu bisa kugapai dari bumi yang tak tersentuh oleh hati nurani ini.                     

     Bimsalabim.... bukan curhat, bukan dongeng. awal kisah antara aku dan dia pun ku buka lembaran pertama.



    Kami berkenalan lewat sebuah jejaring sosial yang bisa memperkenalkan setiap orang lewat udara dan juga bisa membuat setiap orang nyaman duduk berjam-jam di dalam kamar tanpa berbicara sambil menggerakan ke sepuluh jari-jarinya di atas sebuah papan hitam yang bisu dan seakan pasrah untuk di raba-raba. hah, hebat....ya hebat....lihat saja ,produk barat ini mampu membuat banyak orang sudah bisa berkomunikasi dengan sang pencipta tanpa menutup mata, membakar lilin dan melipat kedua tangannya, cukup menggerakan jari jemari ini di atas ke 30an tombol-tombol tersebut.   produk barat ini membuat aku terdiam sejenak ketika membaca status teman kuliah yang  sedang memohon belas kasihan Tuhan dengan berkomunikasi  lewat  statusnya. seperti ini statusnya " Tuhan aq hanya bisa berserah kepada kepadaMu, karna aq sudah tak mampu menanggung beban ini sendirian. God help me..!!! aku mulai bertanya dalam hati, jangan-jangan Tuhan juga punya facebook?? namanya siapa ya, biar aku add. haaah mungkin yang ini, Yunus selalu setia..? ah bukan, ini nama teman ku di kampung Maconer.hehe...
   aku mulai berpikir lagi , atau mungkin ini adalah salah satu cara berkominikasi dengan Tuhan di zaman yang katanya sudah modern ini...atau, atau...??? masa bodoh ah, biarkan mereka bereksprsi sesuka hati. kembali ke laaaptop saja kata mas tukul, yg mukanya mirip teman SMA ku dulu dari Oehala.

  Awal perkenalan kami pun tak di sengaja, waktu itu aku ingin catting dengan  teman lama ku yang kebetulan sedang OL...eh salah masuk wall, hmmm....tiba-tiba muncul pertanyan balik, Ini siapa..? sial....baru sadar, ternyata aku salah masuk wall. eheem.... karna foto profilnya lumayan manis maka,seperti kata pepatah "Tak kenal maka tak di sayang". memperkerkenal diri terlebih dulu adalah cara yang baik untuk membuka komunikasi. Setelah ada respon balik, aku langsung jadi wartawan dadakan. Nama panggilannya siapa? Asli mana? Kuliah dimana? Sudah semester berapa? berawal dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini sampai pada diskusi- diskusi tentang dunia mahasiswa dan tetek bengek apalah gitu…..apa ya....,ah lupa... tak penting. Diskusi lewat jejaring sosial ini berujung pada tukar –tukaran nomer Hp, maklum pria yang lama kesepian. hehe

   Setelah tukar-tukaran nomer Hp, komunikasi lewat jejaring sosial ini pun berpindah ke komukasi lewat udara (HP) yang nenek ku di kampung juga bisa menggunakannya. saling mengenal lebih jauh lagi tentang pribadi masing-masing berawal disini. Tak lupa aku SMS dan Telpon , kalau  punya pulsa. Sial....tak kusangka, tak kuduga.. komunikasi jarak jauh pun bisa membuat hati ini luluh oleh pribadinya yang sepertinya  cuek . eeeeits...akhirnya, jauh dimata dekat di hati, walaupun tanpa status yang jelas. Tak apalah, segala sesuatu ada waktunya, seperti sebuat ayat yang ada pada Buku hitam yang katanya  guru sekolah mingguku dulu, itu pemberian dari Tuhan. yaaah... katanya si gitu, tapi kalau ditanya Tuhan dulu sekolah dimana ya, kok bisa tulis..? pasti katanya, tunggu kita berdoa dulu biar Tuhan berikan petunujuk. hehe
( Semoga guru sekolah mingguku tak pernah membaca tulisan ini. seandainya baca yaaah....aku minta MAAF ya) ibu lihat kata maaf nya pakai huruf Kapital tuw.
next.......
Pendek cerita, komunikasi ini berjalan selama 2 bulananlah, kalau tidak salah. Kalau tidak salah berarti benar ya??? Hehe


    Selama beberapa bulan itu, aku hanya bisa bersabar dan mengikuti kemana cinta itu memanggil . Seperti kata Kahlil gibran “Jangan pernah mengira kalau kau dapat menentukan arah jalanya cinta, karena cinta, pabila kau telah di pilihnya, akan menentukan perjalanan hidupMu.....”. ku ikuti perjalan perasaan ini sampai pada saat yang tepat, menurut ku untuk menyampaikan perasaan ini. waktunya nembak ne..."ehemm.... Sejak pertama kita berkenalaaan, aku...aku  merasa ada sesuatu yang istimewa tapi aku sia-siakan,makanya aku pingin bilang kalau aku cinta sama kamu".
Ah siaaaal....saat aku menyampaikan perasaan yang aku sendiri tak mengerti kenapa bisa muncul  , jawabanya simple saja .." bingunglah, bimbanglah , masih ragulah....lah lah lah...pokokx lah nya di belakang dech, ". hah, ketika mendengar jawabannya membuat aku ingin sekali membacakan puisinya Hemlet, “si filosuf peragu” yang pernah mendesak bahwa meyakini yang ada dalam hidup ini harus dimulai dengan meragukannya, tapi sayang ia tidak pernah rela cintanya diragukan oleh Ophelia,kekasihnya itu. Ingin sekali ku katakan seperti apa yang di katakan oleh Hemlet kepada Ophelia:



Doubt thou the stars are fire;
Doubt the sun doth move;
Doubt truth to be a liar;
But, never doubt I love.
(ragukan bahwa bintang-bintang itu api;
Ragukan bahwa matahari itu bergerak;
Ragukan bahwa kebenaran itu dusta;
Tapi, jangan ragukan cintaku.)
ah, muncul lagi suatu pertanyaan mendasar dalam hati ini. kenapa Dia masih ragu? hmm...malu bertanya sesat dijalan, ah sepertinya aku harus menjadi wartawan jilid II ne. Setelah ku tanya, kutanya dan kutanyai  terus menerus, ternyata orangnya sudah punya pacar. Huuuuuuuft, siaaaaal…!!! kalau suka pacar orang salah ya? Kalau sebatas menyukai tak apalah, karna sama saja dengn mengagumi ciptaannya Tuhan, asalkan jangan merebut pacar orang, karna itu sama saja dengan merebut istri sesama, kata teman kos ku, yangtak pernah kekampus.

Siaaaal, aku hanya bisa memalingkan kepala ke belakang dan berkata dalam hati……haaaaaaaisssst, begini neeee….!!!


                                                                                                                                   




                                                                                                                                   

CONTOH_CONTOH SURAT

Malang, 28 Juli 2011

No                  : 05/IV/2011
Hal                   : Permohonan Ijin Penyelenggaraan Kegiatan
Lampiran          : -
Kepada Yth.
Ketua RW 004
Di tempat
Dengan hormat,
Dalam rangka merayakan HUT Republik Indonesia yang ke-66, maka kami sebagai pengurus karang taruna  RW 04 bermaksud untuk mengadakan kegiatan pertandingan sepak bola antara RW 04 dan RW 05, pada :
Hari                  : Minggu
Tanggal           : 14 Agustus 2011
Waktu              : Pkl 08.00 WIB – selesai
Tempat : Lapangan sepak bola RW 04

Demi suksesnya acara tersebut, kami selaku panitia meminta ijin dan persetujuan untuk menggunakan lapangan sepak bola RW 004, sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.
Demikian surat ini kami buat, atas ijin yang diberikan kami ucapkan terima kasih.
Ketua Karang Taruna RW 04

Putra Maconer



Nomor: 001/A/Xxxx/II/2009
Lamp.  :  –
Hal      : Permohonan Izin Tempat
Kepada Yth.
………………..
Di tempat
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
            Berkenaan dengan akan diselenggarakannya “Pelantikan Kepengurusan Baru Periode 2008/2009  ………………….., kami dari pihak panitia bermaksud meminjam tempat untuk kegiatan tersebut pada:
         Hari, Tanggal         : Jumat, 20 Febuari 2009
         Waktu                    : 08.00 – Selesai
         Tempat                   : Ruang ……
        
   Demikian surat permohonan ini kami sampaikan. Atas kerjasamanya kami mengucapkan terima kasih.
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.                                        
                                                           
           
            Xxxx,01 Febuari 2009
Ketua Pelaksana,
(Tanda Tangan & Nama Terang)
Sekretaris,
(Tanda Tangan & Nama Terang)


Mengetahui,
Puket III STMIK XXXX,





SURAT PERNYATAAN
Nama               : Tatang Mulayadi

Alamat             : Jl. Lembah Biak 3 No. 20
RT.005/Rw.009
Jakarta Barat 13544
Dengan ini saya bermaksud memohon bantuan dana dari PT. Financial Dharma, sesuai dengan kesempatan yang diberikan kepada saya. Permohanan dana ini bertujuan untuk memulai usaha saya yaitu di bidang penjualan suku cadang kendaraan bermotor.

Bersama ini pula saya lampirkan:

  1. Proposal Permohonan Dana
  2. Fotocopy KTP
  3. Fotocopy KK
  4. Denah Lokasi


Demikianlah surat ini saya buat, semoga segera dapat ditindaklanjuti.


Hormat saya



Tatang Mulyadi






Kepada Yth : Sdr Dani. Bandung, 5 Agustus 2007
BEM KEMA FMIPA
Fak. MIPA Unpad
Lampiran : 1 buah Proposal, 1 lembar gambar sampel, 1 kaos/bahan sampel

Dengan hormat
Bersama surat ini kami mengajukan penawaran kerjasama dalam pembuatan produk garment untuk keperluan OSPEK Fakultas MIPA Unpad.
Sebagai informasi, perusahaan kami telah berdiri sejak tahun 1998 dan telah memproduksi garment stuff untuk promosi atau keperluan instansi, sekolah, perusahaan swasta hingga produk-produk untuk brand dan department store terkemuka.
Untuk itu kami mengajukan penawaran produk garment sebagai berikut :
Tshirt: Tshirt print full colour berbahan Cotton 100% dengan harga Rp. 25.000,-/pcs. ( minimum order 200pcs)
Spesifikasi design:
      • Tshirt All Size
      • Bahan Cotton 100%
      • Print standard dpn-blkg
Berikut kami sertakan juga contoh tshirt printing dan bahan yang kami tawarkan.
Demikian surat penawaran ini kami ajukan, dan atas kerjasamanya yang baik kami ucapkan terima kasih

Hormat kami,

Asisten Marketing
Manager



Erik Arianto


ROPOSAL
APRIL CERIA BUDI MULIA DUA TERBAN
HUT KE 25 BUDI MULIA DUA FOUNDATION


I.  PENDAHULUAN
Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun Budi Mulia Dua ke -25 sekaligus untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan orang tua murid dan sekaligus mengajarkan kepedulian terhadap sesama kepada murid PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban maka KPO PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang akan diadakan dalam APRIL CERIA 2012

II.      NAMA KEGIATAN
Nama kegiatan ini adalah “APRIL CERIA 2012”

III.   TEMA KEGIATAN
Terma kegiatan ini adalah indahnya parenting dengan Ustadz Danu

IV.   BENTUK KEGIATAN
APRIL CERIA 2012 dilaksanakan beberapa rangkaian acara yaitu:
       PARENTING DAY bersama Ustad Danu dan konsultan kesehatan anak
       Performance Day yang akan diikuti seluruh murid PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban
       Bazar atau Pasar murah untuk warga sekitar PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban, yang nantinya hasil dari pasar murah ini akan dialokasikan untuk kegiatan sosial

V.     TUJUAN KEGIATAN
       Meningkatkan wawasan orang tua murid tentang pendidikan anak
       Meningkatkan Tali silahturahmi antar Orang tua murid dan Guru
       Mengenalkan kepedulian kepada sesama kepada murid

VI.   SASARAN KEGIATAN
       Orang tua wali murid PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban
       Murid murid Budi Mulia Dua Terban
       Warga sekitar lokasi PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban

VII. WAKTU dan TEMPAT KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada tanggal 21-22 April 2012 pukul 08.00 -11.00 WIB, bertempat di PAUD Terpadu Budi Mulia Dua Terban









VIII.                         SUSUNAN PANITIA

Penanggung jawab sekolah              :Honing Alvianto Bana
Penanggung jawab KPO              : Bima Suryantara

Ketua Panitia                                          : Dedy Priyadi
Sekretaris                                          : Sri wahyuningsih
Bendahara                                          : Nastiti Kartika Sari
Seksi acara                                          : Nova Asti Wulansari
Dokumentasi                                          : Ferry Wiharsasto
PJ Bazar                                                        : Fidiyanti
Konsumsi                                          : Kiky Rizka Fibriana
Herlin Dwi Yuliandari
Perlengkapan                                          : Bima Suryantara

IX.   SUSUNAN ACARA :
Untuk tgl 21 April
1.       08.00 – 08.05              : Pembukaan
2.       08.05 – 08.20              : Sambutan ketua KPO
: Sambutan ketua Yayasan BMD Foundation
3.       08.40 – 09.00              : door prize
4.       09.00 – 10. 00              : pengajian Ustadz Danu
5.       10.00 – 11.30              : parenting pararel
6.       11.30 -              selesai              : penutup
Untuk tgl 22 April
1.       08.00 – 08.05              : pembukaan
2.       08.00 – 08.10              : drumb band
3.       08.10 – 09.30              : performance anak
4.       09.00 – 10.00              : performance tamu
5.       10.00 – 10.05              : penutup
6.       10.05 – 12.00              : bazaar


X.     ANGGARAN KEGIATAN

NO. URAIAN Jumlah
1 Kesekretariatan 500.000
2 Sewa Tenda 1.500.000
3 Sewa Kursi 500.000
4 Snack Undangan 1.000.000
5 Makan siang panitia 600.000
6 Backdrop dan spanduk acara 500.000
7 MC 500.000
8 Persiapan bazar 500.000
9 Dokumentasi 600.000
10 Fee Pemateri 1.300.000

Total 7.500.000




XI.   PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan APRIL CERIA 2012 serta dapat digunakan sebagaimana mestinya



Malang , 1 April , 2012



Ketua Panitia                                                                                                  Sekretaris



Dedy Priyadi