Kaum Miskin Indonesia

Kaum Miskin Indonesia
Perjuangan kita tak akan sia-sia. Asalkan kita tahu dari mana kita berasal (diktum sokrates), dan kemana tujuan kita (aquinas), serta dimana kita akan berhenti (Honing A Bana).

Senin, 21 April 2014

METODE 5W + 1H +FW


oleh : HONING mcR
DASAR PEMIKIRAN
Secara umum proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah kita masih berkutat dan menekankan diri pada penguasaan materi (content mastery), bukan penguasaan konsep (conceptual mastery). Anak-anak kita juga jarang, bahkan mungkin tidak pernah, diajak dan dibiasakan dengan pola berpikir tingkat tinggi (high order thinking).
Dan yang lebih parah, kita sebagai pendidik secara sengaja maupun tidak sengaja, mungkin tidak pernah menanamkan learn how to learn (belajar untuk mempelajari sesuatu). Karena itu wajar bila anak-anak kita tidak berdaya ketika diminta berpikir dan bukan menjawab soal. Reduksi konsep learning (belajar) menjadi penguasaan materi (content mastery) sungguh mencemaskan.
Learn How to Learn memayungi sejumlah besar konsekuensi ketrampilan berpikir anak. Anak yang tahu cara belajar akan tahu apa yang harus dilakukan ketika sebuah fenomena menimbulkan pertanyaan. Kala seorang bertanya, “Di manakah Surabaya?”, anak yang tahu cara belajar akan memikirkan beberapa alternatif pemecahan di mana ia harus mencari jawabannya. Di peta? Di internet? Bertanya pada ayah? Guru? Dan sebagainya dan sebagainya.
Metode pembelajaran ini bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir siswa, artinya tujuan yang ingin dicapai dengan metode ini bukan sekedar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran (teoritis), akan tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan atau ide-ide kreatifnya dalam menghadapi fenomena alam dan sosial yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Metode ini menjurus ke kegiatan-kegiatan problem solving dan berpikir kritis siswa dalam menghadapi situasi kehidupan nyata. Dengan membiasakan anak menerapkan metode 5W +1H +FW dalam proses pembelajaran membuat siswa terbiasa berpikir kritis, inquiri dalam memecahkan problema sosial dan alam yang lebih bermakna.
METODE 5W + 1H + FW
PETUNJUK DISKRIPSI GAMBAR
    1. (What), Apa fenomena alam/social yang terdapat dalam gambar tersebut?
    2. (Why), Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apa yang menyebabkan fenomena tersebut terjadi?
    3. (Who), Siapa aktor dibalik timbulnya fenomena alam/sosial tersebut?
    4. (Where), Dimana tempat/lokasi fenomena alam/social itu terjadi?
    5. (When), Kapan fenomena itu terjadi/dalam kondisi bagaimana fenomena itu terjadi?
    6. (How), Bagaimana cara/strategi menanggulangi/menghadapi fenomena tsb, memecahkan masalah tersebut?
    7. (For What), Untuk apa kita perlu memahami strategi/tekhnis dalam menghadapi fenome alam/social tersebut?
HASIL DISKRIPSI
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  
DERAJAT RISETPERTANYAANMAKNA JAWABAN
Mengetahui, Mengenal,  MengertiWhat (apa)Ingin mengetahui konsep Anu; diskriptif; definitif
 Why (mengapa)Menjelaskan (eksplanasi) sebab-akibat (kausalitas) shg terjadinya peristiwa anu
 Who (siapa)Menunjuk unit analisis orang/ individu/aktor, kelompok, atau organisasi
 Where (dimana)Keterangan tempat, lokasi
 When (kapan)Keterangan waktu, setting, situs, momen
Memahami dan  MenganalisisHow (bagaimana)Pemecahan masalah (solution problems): strategi, metode/cara, model, taktis, dan teknis
Rekonstruksi, Dekontruksi (mengkritisi)For What (untuk apa)Rekomendasi/ Saran: manfaat, implikasi teoritis dan implikasi praktis

Metode Penelitian Kualitatif




A. Pengantar
Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.


B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran


Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
  1. Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
  2. Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
  3. Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
  4. Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
  5. Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
  6. Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.

C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.

2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

D. Metode Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.

2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.
  • Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
  •  Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
  • Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.

3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

4. Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Biografi
Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.

3. Grounded theory
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.

4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.

F. Keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:

1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.(IAHS)

Sabtu, 19 April 2014

5W 1H untuk Menyusun Strategi Pemasaran

Pemasaran atau sering kita sebut marketing adalah pekerjaan yang paling mudah didapat. Pekerjaan yang paling sering ditemukan ketika kita membaca iklan kecik di koran-koran. Tidak peduli lulusan SMA ataupun Sarjana, staf marketing adalah pekerjaan yang seolah-olah menjadi pekerjaan awal yang wajib dijalani untuk menempa mental karyawan-karyawan baru yang ingin terjun ke dunia kerja. Bagi sebagian orang, staf marketing adalah pekerjaan bergengsi dengan penghasilan yang cukup menggiurkan. Dengan catatan,  kita *berhasil*.
Bukan hanya itu, pekerjaan sampingan menjual produk-produk kecantikan, alat-alat rumah tangga, hingga busana yang sedang ramai dilakoni remaja, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga juga dijalankan dengan menggunakan strategi pemasaran tertentu. Siapa yang ingin sukses dan berpenghasilan tinggi harus pandai-pandai mencari cara untuk memasarkan produknya. Memutar otak dengan keras, secara individu maupun berjamaah agar produknya dibeli banyak orang. Dan lagi-lagi, marketing atau pemasaran lah kuncinya.
Untuk itu, dibutuhkan strategi jitu agar produk yang kita pasarkan menjadi laku keras. Banyak strategi pemasaran yang dapat kita pilih dan kita sesuaikan dengan produk kita. Strategi yang tepat dapat membantu keberhasilan kita dalam memasarkan suatu produk. Strategi yang tepat dapat juga berarti efektif dan efisien. Sebaliknya, strategi yang kurang tepat sama juga dengan mubadzir.
Sebagai contoh, kita mudah sekali menemukan diskon besar-besaran di mall atau supermarket, pemberian voucher belanja untuk minimal pembelian tertentu, atau kupon potongan harga untuk barang-barang bertanda khusus.  Atau kita membeli produk dengan sistem member. Membayar sejumlah biaya untuk menjadi member agar pada pembelanjaan selanjutnya bisa mendapat diskon hingga puluhan persen. Semua itu adalah bentuk strategi pemasaran yang umum digunakan untuk penjualan produk-produk tertentu, seperti pakaian, alat rumah tangga, atau kosmetik.
Apa strategi pemasaran untuk produk yang kita miliki? Ada banyak macamnya strategi pemasaran, dari yang mudah hingga yang rumit. Akan tetapi, strategi pemasaran tersebut belum tentu sepenuhnya sesuai dengan produk atau kebutuhan kita. Jika kita merasa belum ada strategi yang sesuai, kita harus berfikir kreatif dan inovatif untuk menciptakan sendiri strategi pemasaran kita.
Berikut adalah cara mudah menciptakan strategi pemasaran produk pembiayaan yaitu dengan mengadaptasi rumus 5W 1H dari unsur atau pokok-pokok berita dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi sebuah cara untuk membantu memetakan pikiran kita agar dapat menyusun strategi yang lebih tepat.
Apa itu 5W 1H?
5W 1H tentu bukanlah hal baru, 5W, terdiri atas What-apa, Who-siapa, Where-dimana, When-kapan,Why-mengapa, dan 1H adalah How-bagaimana. Begitulah penjelasan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Tetapi, kali ini 6 unsur tersebut akan bertranformasi menjadi cara memetakan pikiran agar lebih mudah dalam menyusun strategi pemasaran. Nah, bagaimana cara 5W 1H ini bekerja? Berikut penjelasannya.
What (Apa)
Sebelum mulai menyusun strategi pemasaran, kita harus memahami dan mengerti semua hal yang berkaitan dengan produk. Kita harus mengenali semua jenis produk yang kita miliki. Tanpa terkecuali.
Apa saja produk yang kita miliki?
Apa produk kita? Barang, jasa, atau apa? Apapun itu, pelajari satu demi satu produk yang kita miliki, bahkan hafal di luar kepala kalau perlu. Pengertian, jenis, spesifikasi, dan prosedur-prosedur untuk masing-masing produk harus benar-benar kita kuasai. Jangan sampai terjadi kita gagap ketika menjelaskan produk. Terlebih lagi, ketika kita dituntut untuk melakukan presentasi.
Apa saja kelebihan dan kekurangan produk yang kita miliki?
Mengetahui kelebihan dan kekurangan produk kita itu mutlak hukumnya. Kelebihan dari produk yang kita miliki adalah nilai jual yang harus kita tonjolkan ketika kita melakukan pemasaran. Begitu pula dengan kekurangan produk kita. Ketika kita memahami betul bahwa produk kita memiliki kekurangan, maka kelebihan dari produk kitalah yang harus kita gunakan untuk menyamarkan kekurangan tersebut. Menyamarkan tidak sama dengan menutupi, ya. Kekurangan produk kita tetap kita informasikan setelah semua keunggulannya kita beritahukan. Sehingga, nasabah tidak merasa dibohongi dan produk kita tetap memiliki nilai jual yang tinggi.
Who (Siapa)
Siapa, dalam hal ini adalah siapa sasaran dan target kita.
Setelah mengetahui spesifikasi masing-masing produk dan mengetahui kelebihan dan kekurangannya, langkah selanjutnya adalah menentukan pangsa pasarnya. Siapa yang menjadi target kita. Siapa yang kita prediksikan menjadi sasaran dari produk kita.
Untuk dapat mengetahui siapa target dan sasaran kita, masing-masing produk harus dipilah dan diklasifikasikan. Pelajari kriteria dan persyaratan dari produk yang kita miliki, kemudian sesuaikan dengan sasaran yang akan kita bidik. Perlu juga kiranya mempelajari garis besar karakter masyarakat, komunitas, atau kelompok yang akan kita pilih menjadi sasaran pemasaran. Sehingga, kita dapat lebih mempersiapkan diri ketika harus berhadapan dengan target dan sasaran kita.
Dengan cara demikian, kita bisa lebih fokus dalam memasarkan karena target dan sasaran jelas. Kita juga bisa lebih maksimal dalam membekali diri dengan pengetahuan tentang produk yang akan kita pasarkan. Selain itu, kita juga bisa lebih hemat dan efisien karena  telah memiliki gambaran pasti mengenai siapa dan seperti apa sasaran yang akan kita hadapi. Misalnya, produk A akan sesuai untuk kalangan A, sedangkan produk B sasarannya adalah karyawan B.
When (Kapan)
Kapan, sangat berkaitan dengan penentuan atau pemilihan waktu yang tepat untuk melakukan pemasaran. Menentukan waktu yang tepat atau setidaknya sesuai, secara tidak langsung sama dengan memetakan sasaran kita. Kita dituntut untuk dapat membuat kategori waktu yang disesuaikan dengan jenis produk yang kita miliki, kemudian barulah sasaran kita pilah-pilah berdasarkan kategori waktu yang telah kita buat. Atau dapat dikatakan menyesuaikan dengan “momen”nya.
Momen atau waktu yang tepat dapat mempermudah pemasaran kita. Karena tingkat kebutuhan masyarakat selalu berubah-ubah sesuai dengan waktunya. Bila kita bisa lebih jeli mengamati dan memilah-milah waktu berdasarkan kebutuhan masyarakat, kita akan sangat terbantu dalam melakukan pemasaran. Pemasaran kita bisa lebih efektif dan maksimal bila sesuai dengan momennya.
Contoh mudah:
Seragam sekolah bukanlah kebutuhan pokok. Agar dapat terjual, dibutuhkan momen yang tepat. Seragam sekolah akan sangat laku pada saat pergantian semester atau kenaikan kelas, begitu pula produk tas dan sepatu. Untuk hari-hari biasa, seragam sekolah tidak banyak dicari orang. Jadi, waktu yang tepat untuk memasarkan seragam sekolah adalah ketika kenaikan kelas.
Kita bisa mengatur strategi yang tepat untuk mendongkrak penjualan pada waktu itu, karena saingan kita juga pasti tidak sedikit. Atau setidaknya, sebulan atau dua bulan sebelum kenaikan kelas, kita telah “mencuri” start untuk mencari chanel atau jaringan terlebih dahulu, sehingga penjualan kita bisa lebih meningkat. Yang penting momen kita tepat, jadi penjualan kita bisa lebih maksimal.
Where (Dimana)
Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pemetaan lokasi. Menentukan “dimana” kita harus melakukan pemasaran juga penting karena sangat berkaitan dengan efektivitas kinerja. Menentukan tempat atau lokasi pemasaran tidak bisa sembarangan. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar dapat menentukan lokasi yang tepat untuk memasarkan produk kita sehingga kinerja bisa lebih efektif.
Pertama, sesuaikan jenis produk yang akan kita pasarkan dengan kondisi masyarakat di wilayah tersebut. Kondisi yang dimaksud antara lain, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, dan kultur atau karakter masyarakat di wilayah tersebut. Sesuaikah dengan produk yang akan kita pasarkan? Jika sekiranya tidak sesuai, jangan memaksakan diri untuk tetap melakukan penetrasi pasar di daerah tersebut, karena kita hanya buang-buang waktu, tenaga, maupun biaya pemasaran.
Kedua, pelajari kompetitor kita. Sudah adakah produk yang sejenis dengan produk kita yang beredar di wilayah tersebut? Bagaimana penerimaan masyarakat di wilayah tersebut? Adakah celah yang bisa kita manfaatkan untuk penetrasi produk kita?
Untuk dapat melakukan pemasaran di suatu wilayah yang sebelumnya telah dimasuki oleh kompetitor kita, terlebih lagi, jika wilayah tersebut memang wilayah yang kita anggap potensial, setidaknya produk kita harus satu langkah lebih unggul dari kompetitor kita. Jika tidak, jangan salahkan masyarakat bila produk kita dilirik saja pun tidak.
Menentukan wilayah atau lokasi pemasaran itu penting. Selain kinerja kita bisa lebih efektif dan efisien karena lokasi pemasaran jelas, kita juga dapat mempelajari secara langsung, ada tidaknya produk yang sejenis dengan produk kita, bagaimana penerimaan masyarakat di wilayah tersebut,  sekaligus mengetahui wilayah-wilayah potensial. Karena semakin banyak kompetitor yang “bermain” di wilayah tersebut, semakin potensial pula wilayah tersebut. Namun, itu juga berarti kita harus lebih berhati-hati dan waspada, karena masyarakatnya bisa jadi lebih cerdik dalam memanfaatkan situasi tersebut.
Why (Mengapa)
Dalam melakukan pemasaran, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Pasti ada kendala-kendala yang menyertai. Oleh sebab itu, unsur Why atau Mengapa ini juga menjadi salah satu unsur yang cukup penting.
Mengapa, dalam hal ini adalah cara yang kita gunakan untuk mengetahui segala macam kendala, hambatan, maupun faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan maupun ketidakberhasilan produk kita di pasaran. Kita perlu menganalisa kembali, sebab-sebab produk kita tidak mampu menembus pasar. Setelah itu, kita juga perlu menggali informasi mengenai kompetitor atau pesaing kita untuk mengetahui sebab maupun alasan di balik keberhasilannya dalam menembus pasar.
Mengapa strategi pemasaran yang lama tidak berhasil? Mengapa produk kita tidak diminati?
Untuk menjawab itu, kita perlu tahu bagaimana kondisi riil di lapangan, siapa pesaing atau kompetitor kita, apa saja kendalanya. Kita juga perlu menggali pengalaman ataupun mencari masukan dari karyawan lama atau dari petugas pemasaran yang sebelumnya.
Sebagai contoh, kampung A adalah wilayah potensial, tetapi mengapa di kampung A produk kita tidak diminati? Produk kita yang kurang sesuai atau cara kita yang kurang pas ketika memasarkan? Kita gali informasi sebanyak-banyaknya untuk mencari celah-celah solusi yang masih mungkin kita gunakan untuk menembus kampung A tersebut. Dengan cara demikian, kita bisa lebih maju satu langkah daripada petugas pemasaran yang sebelumnya.
How (Bagaimana)
Setelah memahami penjelasan masing-masing dari unsur W, berikutnya kita akan masuk pada unsur H yaitu How atau Bagaimana. Unsur How atau bagaimana yang dimaksud adalah bagaimana cara kerja kita selanjutnya, yaitu meramu poin-poin pentingnya dan bersiap untuk action di lapangan.
Pemetaan berdasarkan unsur W sudah kita lakukan, selanjutnya poin-poin penting yang sudah kita petakan pada masing-masing unsur W kita ramu untuk menentukan strategi pemasaran kita di lapangan. Rumusan dari unsur W kita pelajari kemudian kita simpulkan untuk menjadi bekal kita di lapangan. Ketika di lapangan kita telah memiliki gambaran mengenai sasaran dan cara penetrasi pasarnya. Sehingga cara kerja kita menjadi lebih efektif dan efisien.
Selain itu, kita juga harus tetap berserah diri pada Allah SWT, Tuhan YME, karena sebagus apapun strategi pemasaran kita dan sekeras apapun usaha kita menjalankannya, tanpa ridho dan restu dari Allah SWT, hasilnya hanya akan 0 (nol). Oleh sebab itu, usaha, kerja keras, dan doa harus seiring sejalan. Sholat Tahajud di malam hari, sholat Dhuha sebelum mulai bekerja, atau puasa Senin Kamis, adalah bagian dari ikhtiar kita untuk mencapai keberhasilan. Semoga Allah selalu memberi kemudahan. Amin.
Demikian, semoga bermanfaat.

CONTOH BERITA YANG MENGANDUNG UNSUR 5W 1H



Mobil Esemka Ciptakan Lapangan Kerja

Dukungan politis diberikan Komisi VI DPR terhadap kehadiran mobil Esemka, yang merupakan produk siswa-siswa SMK bekerja sama dengan usaha kecil menengah (UKM), awal akhir Januari 2012. Mobil ini telah diperkenalkan oleh Walikota Solo Joko Widodo pada awal Januari lalu. Selain menunjukkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, produk ini juga mampu menekan “uang menguap” ke luar negeri sekitar Rp 700 triliun/tahun, hasil keuntungan penjualan mobil produk asing sekitar 1 juta unit/tahun di Indonesia.

Justru kalau berhitung dengan konsep industri, banyak keuntungan. Jadi tidak ada kendala pada pembuatan mobil Esemka. Seperti pasar, sudah ada. Kalau dalam record business, yang pesan sudah di atas 4.000 unit, baik yang applied formal, on call, atau lewat internet. Ini baru di Jawa saja. Melihat ini, mestinya kita bahu-membahu untuk mewujudkan permintaan itu. Jadi, jangan takut kita tidak ada niatan untuk membikin pabrik tapi memaksimalkan kapasitas SMK,  yang punya tempat praktik cukup baik, dan bermitra dengan industri-industri lokal.

Sudah membuat komponen dan 70% komponen produk lokal. Sisanya memang beli, seperti control automatic, meter, electro control lock. Komponen sudah diproduksi di beberapa tempat, seperti Sidoarjo, Pasuruan, Tulungagung, Purwokerto, Tegal, Bekasi, Tangerang, dan Sukabumi. Dengan pemenuhan 70% komponen lokal, itu sudah cukup. Pabrikan-pabrikan juga tidak ada 100% komponen sendiri.Tidak ada 100% Jepang atau Jerman. Oleh karena itu, semua komponen bangsa ini perlu membantu.

Produk mobil Esemka memiliki tiga kelebihan. Selain kualitasnya tidak kalah dengan produk asing, juga bisa menekan “uang menguap” keluar negeri yang diperkirakan mencapai Rp 700 triliun/tahun, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Mobil Esemka ini dapat dukungan dari departemen terkait responnya bagus. BUMN, Kemenko Kesra, Koperasi dan UKM memberikan dukungan positif dan mendorong untuk terus maju. Kalau Perindustrian belum ada statement untuk mendorong kita. Meski begitu, kita akan terus melakukan komunikasi di panja.

Dengan perizinan tidak ada kendala. Perindustrian sudah menyatakan vehicle identification number dan pendaftaran protipe oke. Tinggal masalah gas buang. Tetapi, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) akan membantu menerjunkan para ahlinya guna mengatasi masalah emisi ini. Sedang sertifikasi registrasi uji tipe maupun penerbitan BPKB dan STNK akan lancar saja.

Unsur 5W 1H pada berita :

What     → Apa yg diberitakan? Mobil Esemka Ciptakan Lapangan Kerja.
Where  → Dimana diperkenalkan mobil Esemka tersebut? di Solo, Jawa Tengah.
When   → Kapan kehadiran mobil Esemka? Awal akhir Januari 2012.
Why      → Kenapa produk mobil Esemka di ciptakan? Produk mobil Esemka memiliki tiga kelebihan.  Selain kualitasnya tidak kalah dengan produk asing, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Who      → Siapa yang membuat mobil Esemka tersebuut? Siswa-siswa SMK yang bekerja sama dengan usaha kecil menengan (UKM)
How      → Bagaimana dukungan dari departemen terkait? Mobil Esemka ini dapat dukungan dari departemen terkait responnya bagus. . BUMN, Kemenko Kesra, Koperasi dan UKM memberikan dukungan positif dan mendorong untuk terus maju. Kalau Perindustrian belum ada statement untuk mendorong kita.

Sabtu, 15 Maret 2014

PANDANGAN PANCASILA TENTANG PEMILU 2014

* NKRI dibentuk berdasarkan proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 dan deklarasi kemerdekaan Indonesia 18 agustus 1945
* Perjuangan mengisi kemerdekaan indonesia melalui kehidupan bernegara berdasar pancasila di laksanakan sejak 18 agustus 1945 sampai dengan 30 september 1965
* Pukul 00.00 wib 1 oktober 1965 adalah tempo demokrasi kenegaraan indonesia.
* Sejak 1 oktober 1965 terjadi pemutusan dan atau pembelokan gerak sejarah NKRI yg di sertai dgn pendangkalan, distorsi dan penjungkir balikan makna Pancasila dan deklarasi kemerdekaan Indonesia
* Indonesia mengalami era gerhana pikiran dan gerhana hati.
* Contoh pendangkalan dlm kenegaraan Indonesia diantaranya :
   - Pendekatan Filosofis menjadi rasionalisasi
   - Kerakyatan menjadi demokrasi
   - permusyawaratan yg di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan menjadi suara mayoritas
* Muncul dan di kembangkannya makna pejoratif atas konsep, seperti :
   - Pendidikan melalui perguruan menjadi pendidikan yg berbasis atau berpusat pd murid
   - Radikal (isme)
   - Anarkhi
 * Para penyelenggara NKRI sejak awal orde baru dan terutama pada era reformasi ini telah menggeser dan mengganti perhatian dari bernegara untuk menegakkan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia menjadi sekedar menguji kecocokan modal
 * para penyelenggara NKRI Cq politisi Indonesia adalah para orang Linglung dan terasing dari dirinya sendiri sehingga kelak sewaktu mereka sadar, mereka akan terkejut karna mendapatkan dirinya telah mati.
* perubahan kembali ke NKRI yg asli merupakan imperatif yg harus di pandang sebagai kewajiban manusia indonesia yg bersifat spiritualis-religius.
* keniscayaan holistik atau pendekatan komprehensif - integratif untuk mewujudkan NKRI sesuai kelahiranya. berdasar dalil-dalil berikut :
  1. Keyakinan sebagai dasar manusiawi bersifat meta rasional dan meto empiris, jd bersifat spiitual-religius
  2. Mustahil demokrasi dapat memberikan validasi kebenaran, keadilan sosial ( bagi seluruh rakyat indonesia)
  3. bellongingness, kebersamaan dlm kerja sama dan kerja sama dlm kebersamaan merupakan asas universal kemanusiaan yg niscaya diwujudkan dgn integritas mutlak serta dgn konsistensi seutuhnya pd sikap, perkataan dan perbuatan.
  4. keseluruhan rakyat indonesia TIDAK SAMA DENGAN bagian-bagiannya walupun bagian-bagian terbesar darinya atau, mayoritas apalagi melalui  perwakilannya. oleh karenanya rakyat indonesia mustahil di representasikan oleh wakil-wakilnya yg pilih melalui pemilihan umum dlm kondisi gerhana pikiran dan gerhana hati.
  5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia hnya dpt di wujudkan dgn pikiran dan tindakan yg sesuai dgn kodrad kemanusiaan. sebaliknya mustahil di wujudkan melalui rasionalisasi, demokrasi, dan hukum yg tuna moral kemanusiaan.
* untuk memulai dan mewujudkan NKRI berdasar pancasila menyaratkan :
1. kejujuran dan konsistensi sepenuhnya
 2. kebenarian menunjukan dan berlaku berdasar kebenaran walaupun berlawanan dgn pendapat umum dan elit rezim saat ini.
3. membuka wawasan seluas-luasnya dgn menyadari bahwa pancasila adalah realita manusia dlm semesta realita sebagai kodrad nusantara.
* NKRI dan pelaksanaan pancasila memerlukan manusia yg berurat baja dan bertulang besi
* yg diperlukan untuk mewujudkan nusantara sebagai adi budaya dunia adalah manusia susila yg cakap dan bertanggung jawab atas kesejahtraan masyarakat dan tanah air indonhesia.
* Ia yg telah melaksanakan kewajiban dan tetap bertekad menegakan kebenaran, biarlah tidak mencari kebahagiaan yg lain.

Merdeka.....!!!!!

Kamis, 13 Februari 2014

Suatu Refleksi dalam Rangka Mencari Solusi terhadap Berbagai Permasalahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia






Oleh    : Slamet Haryono (412000011)

I. PENDAHULUAN
Setelah separuh abad lebih Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, muncul suatu pertanyaan mendasar “ Apa sajakah yang telah dihasilkan dari kemerdekaan selama ini ?’. Sebagian orang pasti akan menjawab “ Pembangunan “, dengan memberikan berbagai contoh seperti banyaknya gedung-gedung dan listrik masuk desa. Memang sangatlah mudah untuk mengatakan keberhasilan pembangunan dengan tolok ukur bangunan fisik yang tampak oleh kasat mata, namun demikian terdapat suatu kesulitan yang sangat manakala kita harus menilai keberhasilan pembangunan dengan tolok ukur lainnya, seperti perubahan pola pikir mayarakat, mentalitas, budaya, serta semangat nasionalisme. Sehingga tidaklah mengherankan jika pembangunan yang telah dijalankan selama ini justru menyisakan setumpuk permasalahan mentalitas, moralitas, loyalitas dan permasalahan budaya. Sebagai contoh akhir-akhir ini seringkali terjadi pertikaian antar kelompok dengan isu SARA[1], korupsi dimana-mana,  meningkatnya angka kriminalitas dan lain sebagainya.
Sementara itu Jepang salah salah satu negara kecil dengan cepatnya menjadi raksasa di Asia. Tidak hanya Jepang negara-negara di Asia lainya juga mengalami kemajuan pembangunan yang pesat seperti Malaysia,  Singapura, dan Thailand. Dengan melihat kemajuan pembangunan masyarakat Jepang khususnya, menjadi suatu daya tarik tersendiri mengingat sebelum tahun 1855[2] Jepang masih merupakan negri yang terbelakang dan tertutup. Dalam perkembangan selanjunya tiba-tiba pada awal abad ke 20 Jepang menjadi negara yang di takuti oleh pihak sekutu, karena Jepang melakukan ekspansi besar-besaran di Asia. Selama masa ekspansinya tersebut, Indonesia juga menjadi salah satu korbannya. Baru setelah dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 Jepang mulai menarik pasukannya. Bisa di banyangkan berapa kerugian yang di derita Jepang dengan kekalahan perangnya, tidak hanya materi namun juga mentalitas bangsa Jepang.
Melihat fenomena di atas kembali memunculkan pertanyaan baru “ada apakah dibalik semua ini ?”  apakah peristiwa-peristiwa di tanah air terjadi dengan begitu saja, adakah suatu penjelasan yang masuk akal untuk ini ? kemudian bagaimana jadinya setelah ini ? apa sajakah yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya ?. Dengan berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan tersebut, melalui makalah ini akan dipaparkan kilasan potret Indonesia sebelum merdeka, setelah merdeka, serta kesempatan yang ada setelah pemerintahan presiden Megawati Soekarno Putri dengan referensi pada negara Jepang.

II. KAJIAN PSIKOLOGI BUDAYA
A. Pra Kemerdekaan
Konteks budaya yang dimaksud adalah budaya dalam arti yang lebih sempit, yaitu budaya dalam pengertian sebagai suatu pola umum pemikiran dan kejiwaan masyarakat Indonesia.   Pola pikir masyarakat Indonesia saat itu adalah cenderung untuk berdamai dan tidak suka keributan, jujur dan penurut. Di sisi lain orang-orang yang mendiami wilayah Indonesia berasal dari beragam suku dan etnis yang tentunya masing-masing kelompok tersebut mampunyai suatu sifat yang khas. Berbagai aliran kepercayaanpun turut mewarnai masing-masing kelompok. Sementara itu masyarakat Jepang lebih homogen dengan semangat kerja keras, keuletan, disiplin, pelayanan dan menjunjung tinggi suatu kehormatan. Satu hal yang sama adalah adanya kesamaan dalam model pemerintahan yang dijalankan yaitu kekuasaan penuh di tangan raja. Nampaknya kondisis inilah yang melatar belakangi Belanda untuk menggunakan siasat devida et impera untuk dapa menguras kekayaan di Indonesia. Semasa itu imperial barat tiadaklah melihat Jepang sebagai suatu daerah yang potensial untuk melebarkan kekuasaannya, mengingat sumberdaya alam di sana sangat sedikit. Di kemudian hari dengan adanya penjajahan oleh Belandalah yang menyebabkan perbedaan yang sangat jauh antara Indonesia dengan Jepang.
Pada akhir masa pendudukan kolonial Belanda telah muncul benih-benih nasionalisme yang dipelopori oleh perkumpulan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Perkembangan selanjutnya bermunculan kelompok-kelompok yang secara tegas mengiginkan adanya kemerdekaan. Pada masa ini tampak sekali adanya suatu titik kejenuhan yang sangat dengan segala bentuk penjajahan. Kondisi ini semakin memanas manakala Jepang memulai ekspansinya, terlihat banyak organ pergerakan yang dilarang keberadaanya oleh pihak penguasa. Sebelum masa ini masyarakat Indonesia berada dalam kondisi keterbelakangan, dan wabah penyakit ada di mana-mana. Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Jepang sebelum masa Restorasi Meiji[3]. Hanya saja di Jepang tidaklah mendapat tekanan yang kuat dari bangsa lain, konflik yang terjadi adalah konflik antar klan. Sementara itu di Indonesia konflik yang terjadi adalah persaingan dagang dari pengusaha pribumi[4] dan asing dan konflik antara tuan tanah dengan buruhnya[5].
Selama  Jepang berkuasa hampir dapat dikatakan pergerakan secara terbuka mati. Baru kemudian setelah peristiwa pemboman di Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu, pemuda Indonesia melihat adanya suatu kesempatan yang sangat besar untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Oleh karena euforia berita kekalahan Jepang oleh sekutu membangunkan setiap jiwa pemuda di tanah air untuk bersatu padu untuk memerdekakan diri. Pada masa ini jelas sekali tingginya semangat berkorban untuk memperoleh suatu kemerdekaan, mengingat mereka sama-sama mengalami pahitnya penjajahan. Masing-masing daerah dengan penuh kesadaran mengabungkan diri dalam Republik Indonesia Serikat, termasuk di dalamnya daerah-daerah yang masih memiliki kedaulatan penuh seperti Yogyakarta.
Selama masa penjajahan, masyarakat di nusantara tidak mendapat kesempatan untuk dapat mengekspresikan diri, baik dalam budaya, pola pikir, seni dan lain sebagainya. Masyarakat awam yang tidak mengenyam pendidikan mendapat suatu pengajaran secara langsung dari para penjajah, bahwa kekuasan dan kemewahan dapat menempatkan meraka pada posisi yang aman meskipun untuk itu mereka harus menjilat kepada penjajah. Pemikiran-pemikiran gaya feodal sangat mendominasi dalam penentuan tolok ukur untuk menentukan posisi masyarakat, contoh nyata dari ini adalah dengan adaya pembagian kelas mayarakat yang mendiami Hindia Belanda.

B. Masa Setelah Kemerdekaan
Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia belumlah leluasa untuk mengekspresikan jati dirinya mengingat bayang-bayang pemerintahan Belanda masih mengincar negri ini[6]. Cekaman masa lalu gaya feodal masih teringat jelas dalam setiap pemikiran warga Indonesia. Semangat borjuasi tuan tanah yang selama masa penjajahan terkekang nampaknya mendapatkan angin segar pada masa setelah kemerdekaan. Memang pada masa ini belumlah terlalu kelihatan, tetapi nanti setelah masa pemerintahan Soeharto akan nampak jelas sekali. Dengan strategi ekonominya yang membangun beberapa perusahaan raksasa yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung perekonomian justru menjadi penjajahan yang halis oleh bangsa sendiri. Sungguh malang nasib masyarakat bangsa ini yang hanya mendengar kabar kemerdekaan dan tidak pernah merasakannya bahkan penderitaanya semakin menjadi oleh penjajah dari negri sendiri.
Budaya feodal tersebut yang meletakkan nilai nilai kemanusiaan berdasarkan kelas sosial, sehingga kelimpahan materilah yang dipakai untuk menaikkan statusnya tersebut. Hal inilah yang menyebabkan selama pemerintahan Soeharto terjadi korupsi dimana-mana. Strategi pembangunan yang dipakaipun tidak lepas dari pembangunan sarana fisik mulai dari jembatan, bendungan, listrik dan tempat ibadah. Simbol-simbol tersebut yang dipakai sebagai gagah-gagahan keberhasilan pembangunan. Meskipun yang terjadi di balik itu adalah upaya untuk dapat menyisihkan hak-hak rakyat untuk menikmati kemerdekaan dengan megaproyek[7] yang di danai dari utang luar negri. Demokrasi yang digembar-gemborkan hanyalah slogan belaka, mengingat masyaraakat yang cukup vokal mengkritik kebijakkannya akan direpresi oleh pihak militer dan tak segan-segan dicap sebagai antek-anteknya PKI. Lebih parah lagi mega proyek tersebut hanya berputar di Jawa saja, yang di kemudian hari menyebabkan adanya upaya pemerdekaan wilyah[8] oleh karena ketimpangan sosial tersebut. Sementara itu kekakyaan alam mengalir deras ke luar negri tanpa diketahui kemana perginya uang itu. Di sisi lain terjadi suatu pembodohan terstruktur dengan sistem pendidikan yang ada, dimana penguasa tidak menghendaki adanya generasi muda yang cerdas dan vokal. Barangkali yang cerdas tetap ada namun tidak lagi vokal yang kemudian dapat dipakai sebagai alat untuk terus memupuk rezim itu. Kecerdasan yang dimiliki adalah kecerdasan tanpa mentalitas yang kuat yang dikemudian hari hanya dipakai untuk mengakali bangsanya sendiri. Oleh karena itu tidaklah heran jika di Indonesia terjadi banya pemalsuan dan pembajakkan. Bagaimana hal itu tidak terjadi penguasa-penguasa yang melahirkan kebijakan tentang pembentukan moral[9] bangsa justru memberikan contoh yang keliru melalui prktek-praktek KKN[10]. Strategi yang dipakai Oleh pemerintahan Soeharto tak jauh beda dengan gaya kolonial yaitu dengan represi mliliter dan kapitalis.
Konflik yang terjadi setelah proklamasi kemerdekaan mejadi semakin rumit, mulai dari perbedaan ideologi sampi kepada upaya pemerdekaan diri. Dalam sejarahnya Indonesia seringkali terjadi berbagai pemberontakan dengan maksud permerdekaan daerah tertentu seperti DI/TII, PRRI Permesta, RMS, dan akhir akhir ini adal GAM di Aceh dan OPM di Papua. Selain dari pada itu pada masa setelah Soeharto Justru terjadi banyak sekali kerusuhan yang bersifat SARA seperti yang terjadi di Sampit, Poso, Ambon dan kerusuhan Mei 1998.
Sementara itu di Jepang yang sama-sama bangkit dari keterpurukkannya akibat perang, justru saling bahu membahu membangin negrinya kembali. Dengan semangat kerja yang tinggi dan kedisiplinan yang dimiliki sehingga tidaklah mengejutkan manakala dua tahun setelah itu Jepang justru mengalami kenaikan pertumbuhan industri yang sangat tinggi melebihi sebelum masa perang. Sepintas kemajuan Jepang hanya sekedar kebetulan, kebetulan karena tidak dijajah, kebetulan lebih homogen. Namun itu semua bukanlah alasan, semangat nasionalisme Jepang begitu tinggi mengalahkan kepentingan pribadi, sementara itu bangsa Indonesia lebih mengutamakan keunggulan yang mewakili kelommpok, suku atau daerah tertentu. Semangat Nasionalisme dan kebangsaan hanyaa tinggal sejenak selama masa pengusiaran penjajah, setelah itu kembali bergegas memperkaya diri untuk dapat unjuk muka pada kelompok lain.
Strategi pembangunan Jepang adalah dengan mengutamakan penciptaan tenaga ahli, hal ini terbukti dengan misi pengiriman ke luar negri yang dimulai sejak 1860 yang jumlahnya terus bertambah sejak saat itu. Setelah mempunyai cukup keahlian mereka kembali ke Jepang dan menerapkannya di negri itu. Untuk menopang kelancaran pembangunan di sana pihak pemerintah semakin meningkatkan sarana transportasi, selain untuk meningkatkan pemerataan pembangunan  juga digunakan untuk  mengangkut hasil produksi masing-masing daerah.
Dengan semakin majunya pembangunan di Jepang jarang sekali terjadi konflik SARA yang terdengar. Dengan kata lin bahwa kesadaran masyarakat Jepang akan pentingnya kehidupan bersama sangatlah penting sekali dalam rangka menopang kelangsungan hidup bangsanya ditengah persaingan Internasional.

III. KESEMPATAN TERSISA SETELAH PEMERINTAHAN MEGA
Berdasarkan ulasan di atas terdapat suatu benang merah yang dapat dipakai untuk memotret keberadaan Indonesia. Dan nampaknya jika potret itu dipampang berdampingan dengan potret negara Jepang tampak sekali terdapat perbedaan seperti halnya potret hitam putih dengan potret berwarna. Permasalahan-permasalahan yang harus segera mendapatkan prioritas untuk segera ditangani adalah masalah keutuhan bangsa ini. Hal ini patut menjadi sorotan utama mengingat jika terjadi pelepasan satu wilayah saja, tidak menutup kemingkinan bahwa Indonesia dapat terpecah menjadi beberapa negara. Hal ini tentunya sangat tidak diharapkan. Dengan kondisi negara yang utuh saja masih belum dapat mengimbangi pengaruh globalisasi dari luar apalagi terpecah menjadi negara-negara kecil. Hal ini tentunya sangat diharapkan oleh negara-negara barat. Tentunya kita jangan mudah terkeceoh dengan adanya bantuan dari barat yang mengatas namakan hak asasi manusia untuk menuntut kemerdekaan. Bukankah sejarah telah mencatat bahwa kehadiran Jepang pada awal mulanya adalah mngaku sebagai saudara tua yang juga menjanjikan kemerdekaan
Masalah kedua adalah masalah keamanan dan stabilitas dalam negri. Masalah ini sangat terkait dengan masalah yang pertama hanya saja diutamakan pada pelayanan keselamatan setiap warga negara dalam melukan aktifitasnya. Sudah waktunya bagi TNI dan POLRI untuk membuktikan kemampuannya dalam menjaga stabilitas dan HanKamNas dan tidak lagi digunakan hanya sebagai alat represi dan menghambur-hamburkan anggaran negara. Peran serta mereka tentunya sangatlah diharapkan oleh masyarakat yang akhir –akhir ini cenderung berlaku anarkhis, irasional[11] dengan mentalitas yang semakin bobrok. Kerja mereka akan mejandi optimal dengan adanya kolaborasi yang baik dengan aparat penegak hukum lainnya sepertei kejaksaan dan tetunya harus diimbagi oleh adanya iklim hukum yang sehat.
Masalah ketiga yang cukup penting sekaligus dapat menjadi suatu solusi yang mujarab untuk mengatasi berbagai permasalahan di negri ini adalah pendidikan. Memang dibutuhkan danan yang sangat banyak dan juga termasuk investasi jangka panjang untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.  Memang agak berat untuk dapat memebaskan biaya pendidikan dari sekolah darasr hingga SLTA, namun menurut hitungan kasar seorang pengajar dari FE UKSW bahwa jika subsidi untuk BBM dipakai untuk membiayai pendidikan dari SD sampai SLTA masih ada sisa. Alternatif kedua adalah dengan membuat satu sekolah rakyat pada satu wilayah tertentu (misalnya satu kabupaten) pada tingkat SLTP dan SLTA  dimana terdapat siswa siswa yang berpotensi dan tanpa dikenakan biaya pendidikan. Untuk pendidikan di level SD ataupun perguruan tinggi dapat disesuaikan dengan model serupa. Tentunya dengan format pendidikan yang lain pula. Dan tanpa biaya sunat[12].
Masalah ke empat adalah masalah pengentasam kemiskinan. Hal ini terkait erat dengan kehidupan perekonomian di negara ini. Dan untuk melaksanakannya tidaklah semudah diucaapkan seperti yang terjadi dalam kampanye calon presiden, mengingat untuk mengangkat kaum miskin berarti pemerintah mengarapkan terjadinya permerataan[13]. Namu demikian kondsi ini tidaklah demikian diharapkan oleh pelaku industri, dimana peningkatan kualitas kehidupan dan kecerdasan kaum bawah yang notabene banyak sebagai buruh akan dapat menghabat produksi dan mengurangi pendapatan[14]. Arah kebijakan perekonomian kerakyatan tampaknya lebih teepat untuk negri ini dan akan sekanin baik jika diimbangi oleh pemanfaatan teknologi secara bijak.
Masalah ke lima adalah perlunya penataan kembali kehidupan sosial budaya bangsa ini. Nampaknya dibutuhkan kebesaran jiwa untuk mengakui keunggulan kelompok, suku atau daerah lain, sehingga tidaklah lagi bersaing untuk menunjukkan ssiapaakah yang paling unggul. Akulturasi budaya antar susku dan etnis dinanah air dapat menjadi salah satu alternatif jalan damai. Dan bilamana perpaduan itu telah menjadi sedemikian rupa maka niscaya akan berkurang konflik-konflik SARA. Kemampuan para pejabat dan penguasa negara untuk terjun kebawah dan tidak berkutat pada masalah biroktrasi dapat menjadi katarsis[15] selama pemulihan berlangsung.
IV. CATATAN AKHIR
  • Sifat mendasar masyarakat Indonesia adalah suka berdamai, jujur dan penurut. Sementara itu masyarakat Jepang adalah pekerja keras, ulet, disiplin, pelayanan yang baik serta menjunjung tinggi kehormatan. Kesamaan antara Jepang dan bangsa-bangsa di Indonesia saat itu adalah pada sistem pemerintahan yang monarki absolut.
  • Sebelum masa kemerdekaan kondisi masyarakat Indonesia secara umum hampir sama dengan masyarakat Jepang sebelum kedatangan Commodor Perry. Perbedaannya adalah terletak pada sumber konflik, di Jepang adalah konflik internal antar klan sedangkan di Indonesia adalah konflik persaingan dagang dengan pengusaha asing serta konflik majikan buruh.
  • Konflik-konflik yang terjadi setelah masa kemerdekaan justru menjadi semakin berfariasi, namu demikian konflik dengan upaya untuk memebntuk negara baru terus terjadi mulai dari awal kemerdekaan sampai kepada saat ini.
  • Orientasi Pembanguanan Indonesia yang terarah pada sektor materiel namapaknya membawa dampak yang kurang baik dalam rangka menciptakan bangsa yang tangguh untuk menghadapi tantangan globalisasi.
  • Sklala prioritas yang dapaat dipakai untuk mempertahankan negri ini adlah mempertahankan keutuhan bangasa, menjamin stabilitasn dan keamanan nasional, pendidikan, pengetasan kemiskinan, penataan kembali kehidupan sosial budaya.