- Aku tercipta untukmu wahai manusia, rawat dan jagalah agar kamu tetap hidup
- Tugasku hanya bertasbih kepada Tuhan dan kehidupanku hanya untukmu wahai manusia
- Jika kau merawat aku hari ini artinya kau menyiapkan kehidupanmu 20 tahun ke depan
- Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu
- Kau dan aku tak bisa dipisahkan karena kita saling membutuhkan
- Jika aku tidak disiram aku akan layu dan mati, itu berarti awal deritamu
- Jika aku tidak disiram aku masih dapat berharap dari hujan, tapi jika aku mati kau tak dapat berharap dari siapapun
- Kau hidup perlu oksigen dan akulah produsennya
- Kau mengeluarkan racun akulah yang membersihkannya
- Jika dahanku kau petik pasti patah tapi kau telah kehilangan sebagian hidupmu
- Aku hidup berbunga berbuah bukan untukku tapi untukmu
- Setetes air mungkin tak berarti bagimu tapi sangat bermakna bagiku
- Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang , tapi kita meminjamnya dari anak cucu
- Cintailah apa yang kau miliki dan milikilah apa yang kau cintai
- Jika anda tak disibukkan dengan ha-hal besar pasti anda akan disibukkan dengan hal-hal kecil
- Pohon yang berebut sinar matahari di hutan pasti lebih kuat dari pada pohon pakis yang berlindung di balik pohon lain
- Pohon selalu mendoakan keselamatan bagi manusia yang tangannya ringan untuk merawatnya
- Jadilah seperti tumbuhan terlihat tak melakukan apa" tapi dia sudah merencanakan sesuatu dan melakukan sesuatu yg berguna.
“Lupa bagaimana menggali dan merawat tanah kelahiran adalah lupa akan diri sendiri”
Kaum Miskin Indonesia
Perjuangan kita tak akan sia-sia. Asalkan kita tahu dari mana kita berasal (diktum sokrates), dan kemana tujuan kita (aquinas), serta dimana kita akan berhenti (Honing A Bana).
Minggu, 13 Juli 2014
kata mutiara dari tumbuhan
Sabtu, 12 Juli 2014
Tradisi Manhelan
KEFAMENANU, KOMPAS.com
— Jenazah Pius Pua Bana (49) diajak bercanda dan bergembira bersama
keluarga dan warga masyarakat Bikomi sebelum dimakamkan di Tempat
Pemakaman Umum (TPU) Maslete, Selasa (4/3/2014). Ini merupakan tradisi
masyarakat adat Bikomi.
Pantauan Pos Kupang, Selasa (4/3/2014), sebelum jenazah dikeluarkan dari rumah duka, secara berurutan istri almarhum bersama anak-anaknya memberikan penghormatan terakhir. Selanjutnya diikuti oleh saudara-saudarinya dan orangtua, keponakan langsung, keponakan luar, dan ipar dalam ipar luar.
Selanjutnya, setelah peti jenazah ditutup, pasukan "berkuda" yang menjadi kendaraan bagi Pius Pua Bana untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya disiapkan, yakni dengan menyediakan dua batang bambu mentah.
Peti jenazah dikeluarkan dan saat peti jenazah dibawa keluar, istri dan anak-anak almarhum berjalan melintasi kolong peti jenazah sebagai tanda perpisahan antara almarhum dan keluarga inti.
Jenazah almarhum kemudian diarak dengan berjalan kaki mulai dari rumah duka menuju TPU Maslete yang berjarak sekitar empat kilometer. Sepanjang perjalanan, walau sempat diguyur hujan deras, ratusan keluarga dan masyarakat Bikomi tetap semangat dan terus bercanda dengan almarhum, yakni dengan aksi tarik-dorong antara anggota keluarga dan masyarakat yang berada di depan versus keluarga dan masyarakat yang berada di belakang peti jenazah.
Aksi tarik-dorong peti jenazah almarhum ini sendiri dilakukan secara berulang kali, terutama di titik-titik persimpangan jalan, dan dilakukan dengan penuh sukacita dan sorak-sorai dari ratusan keluarga dan masyarakat Bikomi yang ikut dalam prosesi pemakaman ini.
Aksi ini, menurut tradisi setempat, merupakan kesempatan untuk bercanda ria dengan anggota keluarga bangsawan Bikomi yang meninggal dunia.
"Ini merupakan kesempatan untuk bercanda dan bersuka cita bersama dengan almarhum untuk terakhir kali. Dan ini sudah menjadi tradisi masyarakat Bikomi pada umumnya dan keluarga Bana sehingga tidak bisa kami tinggalkan. Prosesi dari rumah duka ke tempat pemakaman juga dilakukan dengan berjalan kaki karena tidak boleh dinaikkan ke atas kendaraan," jelas salah seorang keluarga almarhum, Theodorus Bana, seperti dikutip dari Pos Kupang di TPU Maslete, Selasa (4/3/2014), terkait aksi tarik-dorong jenazah almarhum Pius Pua Bana.
Sementara prosesi arak-arakan ke TPU yang dilakukan dengan berjalan kaki ini, menurut Theodorus, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi yang ada antara turunan bangsawan dan masyarakat Bikomi.
"Kalau jenazah almarhum dinaikkan ke atas mobil untuk dibawa ke tempat pemakaman, itu sama dengan kami tidak menghargai masyarakat Bikomi," tegasnya.
Tradisi Manhelan
Tradisi bercanda dengan jenazah ini dalam bahasa Dawan disebut sebagai tradisi Manhelan (saling tarik). Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun untuk semua jajaran keturunan bangsawan Bikomi, khususnya keluarga Bana.
Karena itu, setiap kali ada anggota keluarga Bana yang meninggal dunia, prosesi pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki diwarnai aksi saling tarik-dorong, baik untuk anggota keluarga bangsawan laki-laki maupun perempuan.
Almarhum Pius Pua Bana sendiri merupakan anak ketiga dari Raja Mikael Bana. Dia merupakan calon penerima tongkat kerajaan Bana selanjutnya jika tidak meninggal.
Pantauan Pos Kupang, Selasa (4/3/2014), sebelum jenazah dikeluarkan dari rumah duka, secara berurutan istri almarhum bersama anak-anaknya memberikan penghormatan terakhir. Selanjutnya diikuti oleh saudara-saudarinya dan orangtua, keponakan langsung, keponakan luar, dan ipar dalam ipar luar.
Selanjutnya, setelah peti jenazah ditutup, pasukan "berkuda" yang menjadi kendaraan bagi Pius Pua Bana untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya disiapkan, yakni dengan menyediakan dua batang bambu mentah.
Peti jenazah dikeluarkan dan saat peti jenazah dibawa keluar, istri dan anak-anak almarhum berjalan melintasi kolong peti jenazah sebagai tanda perpisahan antara almarhum dan keluarga inti.
Jenazah almarhum kemudian diarak dengan berjalan kaki mulai dari rumah duka menuju TPU Maslete yang berjarak sekitar empat kilometer. Sepanjang perjalanan, walau sempat diguyur hujan deras, ratusan keluarga dan masyarakat Bikomi tetap semangat dan terus bercanda dengan almarhum, yakni dengan aksi tarik-dorong antara anggota keluarga dan masyarakat yang berada di depan versus keluarga dan masyarakat yang berada di belakang peti jenazah.
Aksi tarik-dorong peti jenazah almarhum ini sendiri dilakukan secara berulang kali, terutama di titik-titik persimpangan jalan, dan dilakukan dengan penuh sukacita dan sorak-sorai dari ratusan keluarga dan masyarakat Bikomi yang ikut dalam prosesi pemakaman ini.
Aksi ini, menurut tradisi setempat, merupakan kesempatan untuk bercanda ria dengan anggota keluarga bangsawan Bikomi yang meninggal dunia.
"Ini merupakan kesempatan untuk bercanda dan bersuka cita bersama dengan almarhum untuk terakhir kali. Dan ini sudah menjadi tradisi masyarakat Bikomi pada umumnya dan keluarga Bana sehingga tidak bisa kami tinggalkan. Prosesi dari rumah duka ke tempat pemakaman juga dilakukan dengan berjalan kaki karena tidak boleh dinaikkan ke atas kendaraan," jelas salah seorang keluarga almarhum, Theodorus Bana, seperti dikutip dari Pos Kupang di TPU Maslete, Selasa (4/3/2014), terkait aksi tarik-dorong jenazah almarhum Pius Pua Bana.
Sementara prosesi arak-arakan ke TPU yang dilakukan dengan berjalan kaki ini, menurut Theodorus, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi yang ada antara turunan bangsawan dan masyarakat Bikomi.
"Kalau jenazah almarhum dinaikkan ke atas mobil untuk dibawa ke tempat pemakaman, itu sama dengan kami tidak menghargai masyarakat Bikomi," tegasnya.
Tradisi Manhelan
Tradisi bercanda dengan jenazah ini dalam bahasa Dawan disebut sebagai tradisi Manhelan (saling tarik). Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun untuk semua jajaran keturunan bangsawan Bikomi, khususnya keluarga Bana.
Karena itu, setiap kali ada anggota keluarga Bana yang meninggal dunia, prosesi pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki diwarnai aksi saling tarik-dorong, baik untuk anggota keluarga bangsawan laki-laki maupun perempuan.
Almarhum Pius Pua Bana sendiri merupakan anak ketiga dari Raja Mikael Bana. Dia merupakan calon penerima tongkat kerajaan Bana selanjutnya jika tidak meninggal.
Rumah Adat Sonaf Bikomi
Rumah Adat Sonaf Bikomi
Sonaf Bikomi merupakan rumah adat dari Suku Bana. Sonaf ini
berdampingan dengan : Tola Bikomi yaitu rumah tempat memasak jagung
mudah setelah panen pertama. Haumonef Bikomi, Ume Ola : rumah yang
pertama kali menerima sebagian hasil panen Somaf Bikomi.
Sonaf Bana mempunyai 4 saudara yang biasa disebut Ato Bana Lake Sanak yaitu :
- Sanaf Sanak berasal dari Maslete
- Sonaf Bana berasal dari Tubuhue
- Sonaf Ato berasal dari Oenemu
- Sonaf Lake berasal dari Haumeni
Sonaft didirikan oleh Aluman Bana pada tahun 1938 dan pada tahun 1942
meninggal dan diganti oleh Malafu Bana yang meninggal pada tahun 1999
kemudian diganti oleh Agustinus Bana (Ase Bana). Sonaf Bikomi berfungsi
sebagai tempat musyawarah dan upacara adat pendinginan. Sonaf Bikomi
terbagi 2 ruangan yaitu bagian depan merupakan ruang pertemuan dan
sedangkan pada bagian belakang terdapat ruang tempat tidur dan dapur.
Material yang digunakan untuk atap/ Hun dari alang - alang, tiang usuk/
Suaf terbuat dari batang cemara, usuk diukir melambangkan 8 bersaudara
(Nenis, Hala, Funan, Oetpah, Sife, Tanik dan Apaol Bana) dari tokoh ada
yang berhak mengerjakan Sonaf Bikomi. Rangka/ latah (Tak Pani) atap
terbuat dari batang pinang. Dinding/ Niki terbuat dari kayu merah. Tiang
induk/ Ni Ainaf terbuat dari kayu merah.
Bagian depan Sonaf Bikomi tertancap kayu bercabang tiga yang disebut
Haumenof Bikomi berfungsi sebagai tempat memotong ayam/ babi pada saat
upacara adat.
Sumber : Selayang Pandang Cagar Budaya & Situs di 21 Kabupaten/ Kota se-Nusa Tenggara Timur tahun 2012
Kamis, 10 Juli 2014
STRATEGI SAEMAUL UNDONG
(Oleh: Yumi Angelia)
Bila kita mengingat kembali sejarah
perkembangan negara-negara di dunia ketiga, pada tahun 1960-an kondisi
negara Korea dan Indonesia tidak jauh berbeda. Dengan tingkat inflasi,
pengangguran, dan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi sedangkan
pertumbuhan ekonomi, ketersediaan pangan dan stabilitas politik sangat
rendah. Namun apa yang kita lihat saat ini, negara Korea melaju sangat
cepat dan meninggalkan negara-negara ketiga lainnya dan mulai bersaing
dengan negara-negara maju lainnya termasuk macan Asia, yaitu Jepang.
Semua mata dunia terarah pada Korea dan bertanya-tanya apa resepnya? Apa
yang menyebabkan perkembangan yang begitu pesat di Korea? Apa yang
menjadi faktor pendorong, yang sangat berpengaruh dalam memajukan bangsa
Korea? Salah satu jawabannya adalah S M U.
SMU singkatan dari Saemaul Undong
(dibaca Semalundong - red) yang berarti gerakan pembangunan masyarakat
desa yang membawa pencerahan spiritual dan kondisi kehidupan yang lebih
baik (pendapatan, infrastruktur, lingkungan tempat tinggal dan
komunitas). Gerakan ini didasarkan pada semangat menolong diri sendiri
dan kerja sama dengan dukungan dari Pemerintah.
SMU telah menjadi super power bagi
bangsa Korea dalam membangun negaranya dalam berbagai bidang
pembangunan, termasuk di antaranya gerakan penghijauan Korea (greening
Korea). Kesuksesan gerakan penghijauan di Korea antara lain karena
dipersiapkan dengan perencanaan yang matang dengan memperhitungkan
segala aspek, seperti kondisi tanah : sifat fisik dan kimia tanah,
bangunan konservasi tanah, jenis tanaman, dan lainnya. Tetapi yang
paling penting dan menentukan ialah komitmen Pemerintah, baik Pusat
maupun daerah untuk merehabilitasi dan merestorasi hutan Korea yang
rusak parah setelah perang. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan
informasi, bahkan menjadi inspirasi dan menggugah semangat penyuluh
kehutanan sebagai agen pembaharu (change agent) untuk mengembangkan
modal sosial dalam menjalankan tugas di lapangan.
TUJUAN SAEMAUL UNDONG
SMU memiliki tujuan jangka menengah dan
jangka panjang. Tujuan jangka menengah SMU adalah mencapai kondisi
kehidupan yang baik, sedangkan tujuan jangka panjangnya ialah membangun
komunitas masyarakat yang baik dan modern, sehingga akhirnya dapat
membangun bangsa yang kuat.
Tujuan tersebut dicapai melalui : 1)
peningkatan pendapatan rumah tangga petani; 2) pembangunan
infrastruktur desa; 3) perbaikan lingkungan tempat tinggal; dan 4)
pencerahan spiritual serta perbaikan sistem sosial. Semua dilandasi
dengan semangat Menolong Diri Sendiri (self help) dan Kerja Sama.
1. Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Petani
Pendapatan rumah tangga petani terdiri dari pendapatan dari hasil ladang dan pendapatan lainnya. Menemukan varietas unggulan yang dapat meningkatkan produktivitas, irigasi, teknologi penanaman dan pengelolaan lahan yang lebih maju, pemanenan, prosesing dan pemasaran merupakan aspek yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan petani. Menciptakan lapangan kerja baru dengan pembangunan pabrik pengolahan makanan, pasar, dan pelayanan masyarakat desa merupakan aspek lainnya yang mendapatkan perhatian untuk meningkatkan pendapatan petani.
2. Pembangunan Infrastruktur Desa
Peningkatan infrasruktur desa diperlukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menambah kenyamanan kehidupan di desa. Infrastruktur desa dapat digolongkan menjadi dua yaitu infrastruktur produksi pertanian dan sosial pedesaan.
3. Peningkatan lingkungan tempat tinggal
Pembangunan tempat MCK, dapur, sistem pembuangan limbah rumah tangga untuk menciptakan kondisi kerja dan tempat tinggal yang memenuhi standar sanitasi. Penanaman pohon dan tanaman bunga untuk menciptkan lingkungan yang asri, membuat taman dan fasilitas publik untuk tempat berkumpul masyarakat desa. Aliran sungai dan hutan dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
4. Menghidupkan spiritualitas penduduk desa
Mengembangkan kesadaran pembangunan dan menularkan semangat kerajinan, kerja sama dan menolong diri sendiri. Walaupun penduduk desa menyadari kebutuhan untuk membangun, mereka tidak memiliki akses dalam pembangunan. Oleh karena itu pemerintah menyediakan pelatihan dan penyuluhan untuk membangkitkan jiwa kepemimpinhan, dan mempelajarai cara pengelola sumberdaya dan menghasilkan produk bernilai sebagai aktivitas ekonomi. Masyarakat desa perlu mengembangkan organisasi masyarakat yang lebih efisien untuk peningkatan kinerja mereka.
1. Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Petani
Pendapatan rumah tangga petani terdiri dari pendapatan dari hasil ladang dan pendapatan lainnya. Menemukan varietas unggulan yang dapat meningkatkan produktivitas, irigasi, teknologi penanaman dan pengelolaan lahan yang lebih maju, pemanenan, prosesing dan pemasaran merupakan aspek yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan petani. Menciptakan lapangan kerja baru dengan pembangunan pabrik pengolahan makanan, pasar, dan pelayanan masyarakat desa merupakan aspek lainnya yang mendapatkan perhatian untuk meningkatkan pendapatan petani.
2. Pembangunan Infrastruktur Desa
Peningkatan infrasruktur desa diperlukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menambah kenyamanan kehidupan di desa. Infrastruktur desa dapat digolongkan menjadi dua yaitu infrastruktur produksi pertanian dan sosial pedesaan.
3. Peningkatan lingkungan tempat tinggal
Pembangunan tempat MCK, dapur, sistem pembuangan limbah rumah tangga untuk menciptakan kondisi kerja dan tempat tinggal yang memenuhi standar sanitasi. Penanaman pohon dan tanaman bunga untuk menciptkan lingkungan yang asri, membuat taman dan fasilitas publik untuk tempat berkumpul masyarakat desa. Aliran sungai dan hutan dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
4. Menghidupkan spiritualitas penduduk desa
Mengembangkan kesadaran pembangunan dan menularkan semangat kerajinan, kerja sama dan menolong diri sendiri. Walaupun penduduk desa menyadari kebutuhan untuk membangun, mereka tidak memiliki akses dalam pembangunan. Oleh karena itu pemerintah menyediakan pelatihan dan penyuluhan untuk membangkitkan jiwa kepemimpinhan, dan mempelajarai cara pengelola sumberdaya dan menghasilkan produk bernilai sebagai aktivitas ekonomi. Masyarakat desa perlu mengembangkan organisasi masyarakat yang lebih efisien untuk peningkatan kinerja mereka.
PERKEMBANGAN SMU
Pelaksanaan SMU diawali dengan pemberian
semen untuk pembangunan infrastruktur desa. Kemudian berkembang ke arah
menstimulasi kebutuhan pembangunan, penyelesaian permasalahan desa.
Selanjutnya pelatihan pemimpin SMU desa, perkembangan SMU ke daerah
perkotaan dalam pembangunan pabrik dilandasi kerja sama dan self help.
Akhirnya SMU berkembang lebih luas menjadi kampanye nasional.
Pada 10 tahun pertama pelaksanaan SMU,
sudah terkumpul investasi sebesar 5.258 milyar won dengan sharing dari
pemerintah 51% dan masyarakat 49%. Infrastruktur yang dibangun adalah
jalan produksi sepanjang 6.187 km, 82.596 jembatan, 39.231 tempat
pertemuan masyarakat, dan 258.000 unit rumah.
STRATEGI SAEMAUL UNDONG
Ada tiga pendekatan mendasar dalam SMU,
yaitu : 1) Pendekatan Top Down - Community Based (pendekatan top down
bersama Masyarakat; 2) Pendekatan Terpadu dan 3) Pendekatan The More The
Better.
1. Pendekatan Top Down-Community Based
Filosofi pembangunan masyarakat
(community development) adalah masyarakat harus menidentifikasi sendiri
masalahnya dan sekaligus menemukan sendiri solusi yang terbaik bagi
mereka. Masyarakat tidak akan berpartisipasi pada program pembangunan
apabila kegiatan tersebut tidak menjadi kebutuhan mereka.
Tetapi seringkali masyarakat tidak dapat
mengidentifikasi kebutuhannya karena mereka tidak menyadari apa yang
mereka butuhkan. Atau sekalipun mereka menyadari kebutuhan pembangunan,
mereka tidak termotivasi untuk membangun karena mereka tidak memiliki
sumberdaya dan pengetahuan untuk mencapai kebutuhannya. Oleh karenanya
mereka membutuhkan bantuan pihak eksternal untuk mencapai kebutuhannya.
SMU menggunakan pendekatan Top
Down-Community Based untuk memotivasi masyarakat dan membawa kebutuhan
pembangunan yang dibutuhkan masyarakat. Pemerintah menyediakan kebutuhan
pembangunan dan pelatihan bagi masyarakat desa untuk menyadarkan mereka
tentang kebutuhan pembangunan dan untuk mengelola kelompok masyarakat
untuk melaksanakan kegiatan/proyek pembangunan.
Pendekatan ini merupakan strategi yang
unik, bertujuan untuk meletakkan dasar pembangunan dan memberikan
pencerahan bagi masyarakat desa tentang pentingnya pendekatan bottom up.
Dengan subsidi, dukungan administrasi yang intensif, pembinaan dari
Pemerintah, masyarakat desa ditantang untuk memilih pemimpin mereka,
memilih kegiatan dan melakukan perencanaan program dan pelaksanaan untuk
meningkatkan standar kehidupan mereka. Pada proses ini Pemerintah tetap
menjamin kemandirian penduduk desa untuk memutuskan penggunaan subsidi
dan cara mereka membangun sesuai dengan kebutuhannya. Subsidi dan
inisiatif pemerintah akan berkurang secara bertahap jika masyarakat desa
telah mencapai tingkat pembangunan tertentu.
2. Pendekatan Terpadu
Pembangunan masyarakat harus dipadukan
secara vertikal dan horisontal pada tingkat masyarakat. Integrasi
vertikal berarti koordinasi antara pembangunan tingkat masyarakat dan
kebijakan pembangunan Pemerintah Pusat. Integrasi horisontal berarti
integrasi di antara sektor pada tingkat masyarakat.
Integrasi horizontal berarti kegiatan
pembangunan individu di tingkat desa harus terintegrasi dengan
perencanaan pembangunan desa. Di desa seringkali terjadi berbagai
perencanaan pembangunan dilakukan oleh berbagai kementerian, badan, LSM
pada kelompok tani yang sama. Sumber penganggaran yang berbeda dan
perbedaan kepentingan menyebabkan kegiatan pembangunan di tingkat desa
sulit dipadukan. Untuk dampak pembangunan yang lebih nyata,
kegiatan/program pembangunan tersebut harus diintegrasikan dalam
perencanaan pembangunan masyarakat yang komprehensif.
Integrasi vertikal. Setiap masyarakat
desa mengembangkan rencana aksi SMU masing-masing dengan dukungan
subsidi dan pelatihan dari pemerintah. Setiap tahun pemerintah pusat
menyediakan bahan pembangunan seperti semen, besi dan subsidi anggaran
untuk partisipasi masyarakat desa dalam program SMU. Oleh karena itu
rencana pembangunan tingkat mikro harus terintegrasi dengan kebijakan
Pemerintah Pusat terkait pembangunan desa.
SMU merupakan gerakan penyadaran
masyarakat desa untuk hidup lebih baik, sehingga tidak dapat
diselesaikan sekaligus, tetapi melalui pelaksanaan kegiatan
berkelanjutan selama beberapa tahun, dan tahap demi tahap. Rencana Aksi
SMU biasanya ditetapkan untuk tujuan pembangunan 5 tahun, sehingga
masyarakat desa memiliki visi capaian target pembangunan dalam 5 tahun
dan berupaya mencapai target tersebut.
Kebijakan SMU dalam skala mikro antara
lain: (1) Peningkatan pendapatan (pertanian dan non pertanian); (2)
Pembangunan infrastruktur (Infrastruktur pertanian dan sosial); (3)
Pembangunan komunitas (Pembangunan gedung-gedung pertemuan dan
pembangunan lingkungan pedesaan); (4) Pengembangan sosial budaya
(penguatan kelembagaan masyarakat); dan (5) Kesehatan dan Sanitasi
(pengadaan air bersih, MCK dan lainnya).
3. Pendekatan The Better The More
Untuk pelaksanaan SMU yang lebih baik,
peran pemerintah daerah dan pemimpin SMU perlu ditingkatkan. Oleh karena
itu Pemerintah Pusat mendirikan Saemaul Traning Institute untuk melatih
pemimpin lokal dan pemimpin Saemaul tentang spirit Saemaul, membangun
kepemimpinan, administrasi public, organisasi masyarakat dan teknologi
professional dalam pertanian, kehutanan, perinakan dan lainnya.
Setelah pelatihan, pemimpin Saemaul
harus dikenal kewenangan dan profesinya, sehingga pemerintah
mengeluarkan kartu identitas. Pemimpin Saemaul diberikan kesempatan
untuk memainkan peran penting dalam pertemuan masyarakat. Untuk
meningkatkan motivasi dan prestasi pemimpin Saemaul, Pemerintah
memberikan penghargaan Saemaul.
Untuk membangun konsensus nasional,
pelatihan Saemaul melibatkan bukan saja pemimpin Saemaul tetapi pemimpin
politik, pegawai pemerintah, tokoh masyarakat dan pemimpin lokal.
Peserta pelatihan terdiri dari berbagai organisasi mayarakat dan
pemerintah sehingga dapat saling memahami.
TANTANGAN PENGEMBANGAN MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA
Belajar dari pengalaman SMU di Korea,
untuk dapat mengembangkan modal sosial yang sudah dimiliki bangsa
Indonesia, beberapa hal yang perlu diperhatikan ialah: Organisasi dan
Partisipasi Masyarakat, Dukungan Pemerintah, Agen Pembaharu,
Kepemimpinan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Masyarakat harus memiliki keinginan kuat
untuk berkembang ke arah masyarakat yang lebih maju, dan membuka diri
untuk mengadopsi inovasi. Jika masyarakat terus mengharapkan subsidi
dari pihak luar, maka modal sosial sulit untuk dikembangkan. SMU dapat
berjalan baik karena : (1) keswadayaan masyarakat desa, (2) keinginan
kuat untuk berkembang, (3) kemampuan menghasilkan sumberdaya
pembangunan, dan (4) kepemimpinan dalam mengorganisir dan menggerakkan
masyarakat untuk pembangunan.
Dukungan Pemerintah dalam hal ini ialah
memotivasi masyarakat desa untuk membangun desanya melalui penyediaan
anggaran, bahan dan bantuan tenaga teknis dengan semangat keswadayaan
dan kerja sama. Pemerintah perlu menetapkan gerakan membangun desa
dimaksud sebagai kebijakan nasional. Pemerintah juga harus memiliki
komitmen politik, menyediakan sarana pendukung : administrasi, keuangan,
teknis, serta pendidikan dan pelatihan.
Agen pembaharu, dalam hal ini adalah
pemimpin lokal, penyuluh ataupun pendamping berperan dalam : (1)
mengubah sikap masyarakat, (2) mengembangkan keinginan masyarakat untuk
berubah, (3) mendiagnosa permasalahan masyarakat dan (4) menolong mereka
menemukan solusi. Agen pembaharu juga harus inovatif, dan kreatif untuk
mengadopsi inovasi, memiliki kepemimpinan kuat untuk memimpin
masyarakat desa dan memiliki visi untuk membangun masyarakat desanya.
Penyuluhan sebenarnya sejalan dengan
jiwa dan semangat Saemaul Undong yaitu membangkiktan semangat menolong
diri sendiri (swadaya) dan kerja sama (pengembangan modal sosial).
Penyuluhan sebagai suatu proses pembelajaran memiliki tujuan menolong
diri sendiri dan kerja sama untuk kemandirian masyarakat. Sekarang yang
menjadi permasalahan adalah bagaimana semua warga negara dapat melihat
permasalahan bangsa dan negara sebagai bagian dan tantangan bersama
untuk maju. Modal sosial yang saat ini sangat lemah dan langka ialah
KEPERCAYAAN (trust), kepercayaan rakyat pada pemimpin negara dan
kepercayaan pemimpin negara kepada rakyatnya, sehingga saat ini
KETIDAKPERCAYAAN sebagai energi super power yang meluluhlantahkan
pembangunan di negara kita. Harapan kita semua, seperti syair lagu
“badai pasti berlalu…semoga badai ini segera berlalu….” Jumat, 02 Mei 2014
LEADERSHIP
KOMPETENSI SEORANG PEMIMPIN
1. Langkah pertama menuju sukses adalah mengidentifikasikan bakat-bakat kepemimpinan yang Anda miliki sendiri
2. Kepemimpinan
adalah membantu karyawan/bawahan menjadi apa yang dapat mereka raih.,
membantu visi untuk masa depan, memberi dorongan, melatih dan membina
serta membangun dan mempertahankan hubungan yang baik
1. Komunikasi dibangun berdasarkan hubungan saling mempercyai
2. Sekali orang mau mengambil resiko menyampaikan pendapat mereka, jangan menghukum mereka atas keterbukaannya. Jangan sekali kali – sama sekali jangan – membuat mereka tidak mau lagi berkomunikasi karena menanggung resiko
3. Berupaya membuat orang merasa senang. Setiap orang sama saja. Orang mempunyai fungsinya masing-masing, direktur suatu perusahaan atau wirniaga. Perbedaannya hanya bidang tugas
1. Jika anda mengkader seseorang, anda mempunyai metamorfosis. Anda mengkader seseorang dan orang tersebut mengkader sepuluh orang. Mereka selanjutnya mengkader seratus orang
2. Hanya ada satu cara untuk membuat orang melakukan sesuatu. Cara itu adalah membuat orang lain ingin melakukan sesuatu : keinginan untuk menjadi orang besar, keinginan untuk menjadi orang penting
3. Teknik motivasi : Karyawan
harus dilibatkan, diperlakukan sebagai individu-individu dan pekerjaan
yang bagus harus didorong, dihargai dan diberi rangsangan
1. Orang tidak tertarik pada anda. Mereka tertarik pada diri mereka sendiri
2. Tunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh pada orang lain. Orang akan memberi respon kepada orang yang sungguh-sungguh tertarik padanya
3. Tersenyumlah
kepada orang lain ; ingat nama orang itu ; ingat ejaan nama dan
titelnya dengan benar ; tanyakan kabar istri, suami dan anak-anaknya dll
1. Keluarlah dari dalam diri anda untuk mengetahui apa yang penting bagi orang lain
2. Apa sebenarnya yang diperlukan oleh orang ini ?
1. Tak mungkin semua orang mengetahui segalanya. Mendengarkan orang lain merupakan satu cara terbaik untuk belajar
2. Bukan berarti terbius oleh pendapat-pendapat orang lain, tetapi maksudnya adalah anda benar-benar mendengarnya. Anda harus bersyukur dengan gagasan-gagasan orang lain
3. Dimana-mana orang senang didengar, dan orang itu hampir selalu memberi tanggapan terhadap orang lain yang mendengarkannya
1. Ciptakan rasa memiliki tujuan bersama
2. Jadikan sasaran menjadi sasaran tim
3. Perlakukan orang sebagaimana layaknya mereka sebagai individu-individu
4. Jadikan setiap anggota bertanggung jawab terhadap hasil kerja
5. Manfaatkan setiap kesempatan untuk memperkokoh keyakinan tim
6. Ikuti dan tetap libatkan diri anda
7. Jadilah mentor
1. Lakukanlah kepada orang lain apa yang anda harapkan dari mereka untuk mereka lakukan kepada anda
2. Tempatkan diri anda dalam posisi orang lain
3. Perlakukan karyawan sebagai kolega, dan jangan meremehkan, mendikte atau memarahi
Orang-orang bekerja demi uang, tapi mereka mengharapkan lebih dari itu, pengakuan, pujian dan penghargaan
1. Ciptakan lingkungan dimana orang terbuka menerima saran atau kritik yang konstruktif : mengakui kesalahan anda sendiri
2. Berfikir dua kali sebelum mengkritik atau menyalahkan orang
3. Jangan sekali-kali mempermalukan orang dalam keadaan apapun
1. Tetapkan sasaran yang menantang tetapi realistik ; sasaran yang jelas dan dapat diukur ; sasaran jangka pendeka dan jangka panjang
2. Bila anda berhasil meraih satu sasaran, berilah pujian pada diri anda sendiri
3. Jadikanlah keberhasilan untuk memotivasi pencapaian sasaran berikutnya
1. untuk meraih apa yang kita inginkan dalam hidup ini, anda harus percaya diri dan harus bertekad untuk mengejarnya
2. Pemimpin tidak pernah kehilangan fokus, ia tetap mengarahkan matanya pada sasaran besar yang ada di depannya
1. Semua
orang memerlukan keseimbangan dalam hidupnya, hal ini tidak hanya
membuat kehidupan pribadi lebih bahagia dan memuaskan, tetapi akan
membuat orang akan lebih bersemangat, lebih fokus dan lebih produktif
2. Kalau anda ingin menjadi pemimpin besar, anda membutuhkan seluruh bagian hidup anda harus kuat dan utuh
1. Ubah rasa permusuhan yang hebat, menjadi sumber kekuatan yang positif
2. Ada banyak hal yang dapat menyakitkan, mencemaskan, atau membuat anda kesal. Jangan larut didalamnya. Janganl biarkan masalah kecil membuat anda patah semangat
3. Perasaan
positif dan percaya diri tidak hanya membantu anda mencapai lebih
sukses, tetapi perasaan itu juga membuat orang lain ingin bergabung
dengan anda
1. Hadapi realitas hari ini
2. Menjadi terhibur dengan hukum keseimbangan : sejauh mana kemungkinan hal ini terjadi
3. Terima
sesuatu yang tak terhindarkan : jangan membuang-buang waktu dan energi
mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa anda kuasai
4. Kuncinya
melihat dari dua sisi : menerima apa yang telah terjadi merupakan
langkah pertama untuk mengatasi konsekuensi dari suatu
ketidakberuntungan
5. Bagaimana
jika beralasan untuk khawatir : (i) tanyakan kemungkinan terburuk yang
dapat terjadi, (ii) persiapkan diri untuk menerima yang terburuk, (iii)
tanyakan apa yang bisa diperbuat untuk mengatasi situasi
1. Cara paling baik untuk membuat orang senang dan mendengar gagasan anda adalah anda sendiri harus menyenanginya
2. Antusiasme harus muncul dari dalam
3. Antusiasme terdiri kesungguhan dan keyakinan
4. Antusiasme sama pentingnya dengan kemampuan yang tinggi, sama pentingnya dengan kerja keras
5. Antusiasme paling mudah diperoleh bila anda memiliki sasaran yang jelas dalam hidup anda
Senin, 21 April 2014
METODE 5W + 1H +FW
oleh : HONING mcR
DASAR PEMIKIRAN
Secara umum proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah kita masih
berkutat dan menekankan diri pada penguasaan materi (content mastery),
bukan penguasaan konsep (conceptual mastery). Anak-anak kita juga
jarang, bahkan mungkin tidak pernah, diajak dan dibiasakan dengan pola
berpikir tingkat tinggi (high order thinking).
Dan yang lebih parah, kita sebagai pendidik secara sengaja maupun tidak sengaja, mungkin tidak pernah menanamkan learn how to learn (belajar
untuk mempelajari sesuatu). Karena itu wajar bila anak-anak kita tidak
berdaya ketika diminta berpikir dan bukan menjawab soal. Reduksi konsep
learning (belajar) menjadi penguasaan materi (content mastery) sungguh
mencemaskan.
Learn How to Learn memayungi sejumlah besar konsekuensi ketrampilan
berpikir anak. Anak yang tahu cara belajar akan tahu apa yang harus
dilakukan ketika sebuah fenomena menimbulkan pertanyaan. Kala seorang
bertanya, “Di manakah Surabaya?”, anak yang tahu cara belajar akan
memikirkan beberapa alternatif pemecahan di mana ia harus mencari
jawabannya. Di peta? Di internet? Bertanya pada ayah? Guru? Dan
sebagainya dan sebagainya.
Metode pembelajaran ini bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir
siswa, artinya tujuan yang ingin dicapai dengan metode ini bukan sekedar
siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran (teoritis), akan tetapi
bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan atau ide-ide
kreatifnya dalam menghadapi fenomena alam dan sosial yang terjadi
dilingkungan sekitarnya. Metode ini menjurus ke kegiatan-kegiatan problem solving dan berpikir kritis siswa
dalam menghadapi situasi kehidupan nyata. Dengan membiasakan anak
menerapkan metode 5W +1H +FW dalam proses pembelajaran membuat siswa
terbiasa berpikir kritis, inquiri dalam memecahkan problema sosial dan
alam yang lebih bermakna.
METODE 5W + 1H + FW
PETUNJUK DISKRIPSI GAMBAR
- (What), Apa fenomena alam/social yang terdapat dalam gambar tersebut?
- (Why), Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apa yang menyebabkan fenomena tersebut terjadi?
- (Who), Siapa aktor dibalik timbulnya fenomena alam/sosial tersebut?
- (Where), Dimana tempat/lokasi fenomena alam/social itu terjadi?
- (When), Kapan fenomena itu terjadi/dalam kondisi bagaimana fenomena itu terjadi?
- (How), Bagaimana cara/strategi menanggulangi/menghadapi fenomena tsb, memecahkan masalah tersebut?
- (For What), Untuk apa kita perlu memahami strategi/tekhnis dalam menghadapi fenome alam/social tersebut?
HASIL DISKRIPSI
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
| DERAJAT RISET | PERTANYAAN | MAKNA JAWABAN |
| Mengetahui, Mengenal, Mengerti | What (apa) | Ingin mengetahui konsep Anu; diskriptif; definitif |
| Why (mengapa) | Menjelaskan (eksplanasi) sebab-akibat (kausalitas) shg terjadinya peristiwa anu | |
| Who (siapa) | Menunjuk unit analisis orang/ individu/aktor, kelompok, atau organisasi | |
| Where (dimana) | Keterangan tempat, lokasi | |
| When (kapan) | Keterangan waktu, setting, situs, momen | |
| Memahami dan Menganalisis | How (bagaimana) | Pemecahan masalah (solution problems): strategi, metode/cara, model, taktis, dan teknis |
| Rekonstruksi, Dekontruksi (mengkritisi) | For What (untuk apa) | Rekomendasi/ Saran: manfaat, implikasi teoritis dan implikasi praktis |
Metode Penelitian Kualitatif
A. Pengantar
Dalam
penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul
penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik
substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan
filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki
wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi
dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada
ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki
kedalaman bahasan yang tak terbatas.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran
Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran
Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
- Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
- Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
- Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
- Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
- Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
- Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.
C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.
2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.
3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.
4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.
5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.
D. Metode Pengumpulan Data
Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.
- Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
- Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
- Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.
3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.
4. Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Biografi
Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.
2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.
3. Grounded theory
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.
4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.
5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.
F. Keabsahan Data
Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:
1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.
2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.
G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.(IAHS)
Sabtu, 19 April 2014
5W 1H untuk Menyusun Strategi Pemasaran
Pemasaran atau sering kita sebut marketing adalah pekerjaan yang paling mudah didapat. Pekerjaan yang paling sering ditemukan ketika kita membaca iklan kecik di koran-koran. Tidak peduli lulusan SMA ataupun Sarjana, staf marketing adalah pekerjaan yang seolah-olah menjadi pekerjaan awal yang wajib dijalani untuk menempa mental karyawan-karyawan baru yang ingin terjun ke dunia kerja. Bagi sebagian orang, staf marketing adalah pekerjaan bergengsi dengan penghasilan yang cukup menggiurkan. Dengan catatan, kita *berhasil*.
Bukan hanya itu, pekerjaan sampingan menjual produk-produk kecantikan, alat-alat rumah tangga, hingga busana yang sedang ramai dilakoni remaja, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga juga dijalankan dengan menggunakan strategi pemasaran tertentu. Siapa yang ingin sukses dan berpenghasilan tinggi harus pandai-pandai mencari cara untuk memasarkan produknya. Memutar otak dengan keras, secara individu maupun berjamaah agar produknya dibeli banyak orang. Dan lagi-lagi, marketing atau pemasaran lah kuncinya.
Untuk itu, dibutuhkan strategi jitu agar produk yang kita pasarkan menjadi laku keras. Banyak strategi pemasaran yang dapat kita pilih dan kita sesuaikan dengan produk kita. Strategi yang tepat dapat membantu keberhasilan kita dalam memasarkan suatu produk. Strategi yang tepat dapat juga berarti efektif dan efisien. Sebaliknya, strategi yang kurang tepat sama juga dengan mubadzir.
Sebagai contoh, kita mudah sekali menemukan diskon besar-besaran di mall atau supermarket, pemberian voucher belanja untuk minimal pembelian tertentu, atau kupon potongan harga untuk barang-barang bertanda khusus. Atau kita membeli produk dengan sistem member. Membayar sejumlah biaya untuk menjadi member agar pada pembelanjaan selanjutnya bisa mendapat diskon hingga puluhan persen. Semua itu adalah bentuk strategi pemasaran yang umum digunakan untuk penjualan produk-produk tertentu, seperti pakaian, alat rumah tangga, atau kosmetik.
Apa strategi pemasaran untuk produk yang kita miliki? Ada banyak macamnya strategi pemasaran, dari yang mudah hingga yang rumit. Akan tetapi, strategi pemasaran tersebut belum tentu sepenuhnya sesuai dengan produk atau kebutuhan kita. Jika kita merasa belum ada strategi yang sesuai, kita harus berfikir kreatif dan inovatif untuk menciptakan sendiri strategi pemasaran kita.
Berikut adalah cara mudah menciptakan strategi pemasaran produk pembiayaan yaitu dengan mengadaptasi rumus 5W 1H dari unsur atau pokok-pokok berita dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi sebuah cara untuk membantu memetakan pikiran kita agar dapat menyusun strategi yang lebih tepat.
Apa itu 5W 1H?
5W 1H tentu bukanlah hal baru, 5W, terdiri atas What-apa, Who-siapa, Where-dimana, When-kapan,Why-mengapa, dan 1H adalah How-bagaimana. Begitulah penjelasan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Tetapi, kali ini 6 unsur tersebut akan bertranformasi menjadi cara memetakan pikiran agar lebih mudah dalam menyusun strategi pemasaran. Nah, bagaimana cara 5W 1H ini bekerja? Berikut penjelasannya.
What (Apa)
Sebelum mulai menyusun strategi pemasaran, kita harus memahami dan mengerti semua hal yang berkaitan dengan produk. Kita harus mengenali semua jenis produk yang kita miliki. Tanpa terkecuali.
Apa saja produk yang kita miliki?
Apa produk kita? Barang, jasa, atau apa? Apapun itu, pelajari satu demi satu produk yang kita miliki, bahkan hafal di luar kepala kalau perlu. Pengertian, jenis, spesifikasi, dan prosedur-prosedur untuk masing-masing produk harus benar-benar kita kuasai. Jangan sampai terjadi kita gagap ketika menjelaskan produk. Terlebih lagi, ketika kita dituntut untuk melakukan presentasi.
Apa saja kelebihan dan kekurangan produk yang kita miliki?
Mengetahui kelebihan dan kekurangan produk kita itu mutlak hukumnya. Kelebihan dari produk yang kita miliki adalah nilai jual yang harus kita tonjolkan ketika kita melakukan pemasaran. Begitu pula dengan kekurangan produk kita. Ketika kita memahami betul bahwa produk kita memiliki kekurangan, maka kelebihan dari produk kitalah yang harus kita gunakan untuk menyamarkan kekurangan tersebut. Menyamarkan tidak sama dengan menutupi, ya. Kekurangan produk kita tetap kita informasikan setelah semua keunggulannya kita beritahukan. Sehingga, nasabah tidak merasa dibohongi dan produk kita tetap memiliki nilai jual yang tinggi.
Who (Siapa)
Siapa, dalam hal ini adalah siapa sasaran dan target kita.
Setelah mengetahui spesifikasi masing-masing produk dan mengetahui kelebihan dan kekurangannya, langkah selanjutnya adalah menentukan pangsa pasarnya. Siapa yang menjadi target kita. Siapa yang kita prediksikan menjadi sasaran dari produk kita.
Untuk dapat mengetahui siapa target dan sasaran kita, masing-masing produk harus dipilah dan diklasifikasikan. Pelajari kriteria dan persyaratan dari produk yang kita miliki, kemudian sesuaikan dengan sasaran yang akan kita bidik. Perlu juga kiranya mempelajari garis besar karakter masyarakat, komunitas, atau kelompok yang akan kita pilih menjadi sasaran pemasaran. Sehingga, kita dapat lebih mempersiapkan diri ketika harus berhadapan dengan target dan sasaran kita.
Dengan cara demikian, kita bisa lebih fokus dalam memasarkan karena target dan sasaran jelas. Kita juga bisa lebih maksimal dalam membekali diri dengan pengetahuan tentang produk yang akan kita pasarkan. Selain itu, kita juga bisa lebih hemat dan efisien karena telah memiliki gambaran pasti mengenai siapa dan seperti apa sasaran yang akan kita hadapi. Misalnya, produk A akan sesuai untuk kalangan A, sedangkan produk B sasarannya adalah karyawan B.
When (Kapan)
Kapan, sangat berkaitan dengan penentuan atau pemilihan waktu yang tepat untuk melakukan pemasaran. Menentukan waktu yang tepat atau setidaknya sesuai, secara tidak langsung sama dengan memetakan sasaran kita. Kita dituntut untuk dapat membuat kategori waktu yang disesuaikan dengan jenis produk yang kita miliki, kemudian barulah sasaran kita pilah-pilah berdasarkan kategori waktu yang telah kita buat. Atau dapat dikatakan menyesuaikan dengan “momen”nya.
Momen atau waktu yang tepat dapat mempermudah pemasaran kita. Karena tingkat kebutuhan masyarakat selalu berubah-ubah sesuai dengan waktunya. Bila kita bisa lebih jeli mengamati dan memilah-milah waktu berdasarkan kebutuhan masyarakat, kita akan sangat terbantu dalam melakukan pemasaran. Pemasaran kita bisa lebih efektif dan maksimal bila sesuai dengan momennya.
Contoh mudah:
Seragam sekolah bukanlah kebutuhan pokok. Agar dapat terjual, dibutuhkan momen yang tepat. Seragam sekolah akan sangat laku pada saat pergantian semester atau kenaikan kelas, begitu pula produk tas dan sepatu. Untuk hari-hari biasa, seragam sekolah tidak banyak dicari orang. Jadi, waktu yang tepat untuk memasarkan seragam sekolah adalah ketika kenaikan kelas.
Seragam sekolah bukanlah kebutuhan pokok. Agar dapat terjual, dibutuhkan momen yang tepat. Seragam sekolah akan sangat laku pada saat pergantian semester atau kenaikan kelas, begitu pula produk tas dan sepatu. Untuk hari-hari biasa, seragam sekolah tidak banyak dicari orang. Jadi, waktu yang tepat untuk memasarkan seragam sekolah adalah ketika kenaikan kelas.
Kita bisa mengatur strategi yang tepat untuk mendongkrak penjualan pada waktu itu, karena saingan kita juga pasti tidak sedikit. Atau setidaknya, sebulan atau dua bulan sebelum kenaikan kelas, kita telah “mencuri” start untuk mencari chanel atau jaringan terlebih dahulu, sehingga penjualan kita bisa lebih meningkat. Yang penting momen kita tepat, jadi penjualan kita bisa lebih maksimal.
Where (Dimana)
Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pemetaan lokasi. Menentukan “dimana” kita harus melakukan pemasaran juga penting karena sangat berkaitan dengan efektivitas kinerja. Menentukan tempat atau lokasi pemasaran tidak bisa sembarangan. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar dapat menentukan lokasi yang tepat untuk memasarkan produk kita sehingga kinerja bisa lebih efektif.
Pertama, sesuaikan jenis produk yang akan kita pasarkan dengan kondisi masyarakat di wilayah tersebut. Kondisi yang dimaksud antara lain, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, dan kultur atau karakter masyarakat di wilayah tersebut. Sesuaikah dengan produk yang akan kita pasarkan? Jika sekiranya tidak sesuai, jangan memaksakan diri untuk tetap melakukan penetrasi pasar di daerah tersebut, karena kita hanya buang-buang waktu, tenaga, maupun biaya pemasaran.
Kedua, pelajari kompetitor kita. Sudah adakah produk yang sejenis dengan produk kita yang beredar di wilayah tersebut? Bagaimana penerimaan masyarakat di wilayah tersebut? Adakah celah yang bisa kita manfaatkan untuk penetrasi produk kita?
Untuk dapat melakukan pemasaran di suatu wilayah yang sebelumnya telah dimasuki oleh kompetitor kita, terlebih lagi, jika wilayah tersebut memang wilayah yang kita anggap potensial, setidaknya produk kita harus satu langkah lebih unggul dari kompetitor kita. Jika tidak, jangan salahkan masyarakat bila produk kita dilirik saja pun tidak.
Menentukan wilayah atau lokasi pemasaran itu penting. Selain kinerja kita bisa lebih efektif dan efisien karena lokasi pemasaran jelas, kita juga dapat mempelajari secara langsung, ada tidaknya produk yang sejenis dengan produk kita, bagaimana penerimaan masyarakat di wilayah tersebut, sekaligus mengetahui wilayah-wilayah potensial. Karena semakin banyak kompetitor yang “bermain” di wilayah tersebut, semakin potensial pula wilayah tersebut. Namun, itu juga berarti kita harus lebih berhati-hati dan waspada, karena masyarakatnya bisa jadi lebih cerdik dalam memanfaatkan situasi tersebut.
Why (Mengapa)
Dalam melakukan pemasaran, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Pasti ada kendala-kendala yang menyertai. Oleh sebab itu, unsur Why atau Mengapa ini juga menjadi salah satu unsur yang cukup penting.
Mengapa, dalam hal ini adalah cara yang kita gunakan untuk mengetahui segala macam kendala, hambatan, maupun faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan maupun ketidakberhasilan produk kita di pasaran. Kita perlu menganalisa kembali, sebab-sebab produk kita tidak mampu menembus pasar. Setelah itu, kita juga perlu menggali informasi mengenai kompetitor atau pesaing kita untuk mengetahui sebab maupun alasan di balik keberhasilannya dalam menembus pasar.
Mengapa strategi pemasaran yang lama tidak berhasil? Mengapa produk kita tidak diminati?
Untuk menjawab itu, kita perlu tahu bagaimana kondisi riil di lapangan, siapa pesaing atau kompetitor kita, apa saja kendalanya. Kita juga perlu menggali pengalaman ataupun mencari masukan dari karyawan lama atau dari petugas pemasaran yang sebelumnya.
Sebagai contoh, kampung A adalah wilayah potensial, tetapi mengapa di kampung A produk kita tidak diminati? Produk kita yang kurang sesuai atau cara kita yang kurang pas ketika memasarkan? Kita gali informasi sebanyak-banyaknya untuk mencari celah-celah solusi yang masih mungkin kita gunakan untuk menembus kampung A tersebut. Dengan cara demikian, kita bisa lebih maju satu langkah daripada petugas pemasaran yang sebelumnya.
How (Bagaimana)
Setelah memahami penjelasan masing-masing dari unsur W, berikutnya kita akan masuk pada unsur H yaitu How atau Bagaimana. Unsur How atau bagaimana yang dimaksud adalah bagaimana cara kerja kita selanjutnya, yaitu meramu poin-poin pentingnya dan bersiap untuk action di lapangan.
Pemetaan berdasarkan unsur W sudah kita lakukan, selanjutnya poin-poin penting yang sudah kita petakan pada masing-masing unsur W kita ramu untuk menentukan strategi pemasaran kita di lapangan. Rumusan dari unsur W kita pelajari kemudian kita simpulkan untuk menjadi bekal kita di lapangan. Ketika di lapangan kita telah memiliki gambaran mengenai sasaran dan cara penetrasi pasarnya. Sehingga cara kerja kita menjadi lebih efektif dan efisien.
Selain itu, kita juga harus tetap berserah diri pada Allah SWT, Tuhan YME, karena sebagus apapun strategi pemasaran kita dan sekeras apapun usaha kita menjalankannya, tanpa ridho dan restu dari Allah SWT, hasilnya hanya akan 0 (nol). Oleh sebab itu, usaha, kerja keras, dan doa harus seiring sejalan. Sholat Tahajud di malam hari, sholat Dhuha sebelum mulai bekerja, atau puasa Senin Kamis, adalah bagian dari ikhtiar kita untuk mencapai keberhasilan. Semoga Allah selalu memberi kemudahan. Amin.
Demikian, semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)

